Politik

Widana: Usai Serang GPS, JRX, ND, Buzzer Koster Bidik Massker

KARANGASEM, BaliPolitika.Com- Wibawa dan nama besar Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai partai rakyat jelata alias wong cilik dinilai runtuh di Pilkada Karangasem 2020. Pemicunya bukan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Karangasem nomor urut 01, I Gede Dana dan I Wayan Artha Dipa, melainkan tim buzzer yang membela paslon tersebut. Berdasarkan riwayat postingannya, para buzzer diduga kuat berhubungan erat dengan Gubernur Bali Wayan Koster. Demikian dugaan Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Perindo Bali, I Nyoman Widana disinggung soal dinamika politik di Karangasem jelang hari coblosan, 9 Desember 2020.

Sebagai pengagum Dr. Ir. H. Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia (1945–1967) sekaligus pendiri Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang menjadi embrio PDI Perjuangan, Widana mengaku prihatin dan sedih melihat pola komunikasi yang dibangun oleh tim buzzer tersebut. Widana menyebut akun facebook Van Darmika, Putu Pasek Windra, Yan Seged, Putu Jay, dan sejumlah akun medsos lain perlu diajarkan sopan-santun dan etika komunikasi. Dia menilai penggunaan kata-kata serta kalimat kasar dan tanpa data penunjang yang dilancarkan tim buzzer Dana-Dipa jelas-jelas merupakan upaya penggiringan opini yang menyesatkan masyarakat. Ironisnya, bukannya jantan, Widana menyebut para buzzer ini banci alias bencong karena bersembunyi di balik akun medsos palsu.

“Tak masalah pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Karangasem nomor urut 2, I Gusti Ayu Mas Sumatri-I Made Sukerana (Massker) dikritisi. Namun, dengan cara jantan dan bermartabatlah. Kalau beraninya cuma koar-koar di balik akun medsos palsu apakah Anda-Anda itu layak berada di barisan partai kebanggaan masyarakat, yakni PDI Perjuangan? Sebagai pengagum Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarno Putri, jujur saya sangat sedih melihat kondisi ini,” ungkapnya. Kalau memang mau ngomong kasar, Widana berkata silakan. Asalkan mengacu data konkrit, bisa dipertanggungjawabkan, dan tidak berlindung di balik akun medsos palsu. “Atau Anda-Anda ini memang banci sehingga malu menunjukkan wajah sendiri ya?” sentil pria murah senyum itu.

Widana merinci opini menyesatkan oleh tim buzzer dimaksud antara lain berbunyi sebagai berikut.“Pocol milih Buk Mas!! Baang pis 300 tali. 5 tahun masyarakat Karangasem terus tambah lacur, tapi Buk Mas dadi tambah sugih gen. Engeken ne???”. Status ini diunggah oleh akun facebook Van Darmika, Putu Pasek Windra, Yan Seged, Putu Jay, dan sejumlah akun lain. Khusus akun fb Van Darmika, Widana memastikan yang bersangkutan adalah anak buah I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan, Ketua Tim Pemenangan Pilkada Karangasem 2020.

Agar tak jadi fitnah, Widana mempersilakan para buzzer itu menyertakan dengan bukti sekaligus melaporkan Massker ke Bawaslu Karangasem atau Bawaslu Bali. “Ini jelas-jelas pencemaran nama baik dan bisa dipidana. Tapi bagaimana cara memidana makhluk halus dan akun medsos banci ya?” candanya.

Menariknya, berdasarkan penelusuran dan pengumpulan riwayat postingan para buzzer tersebut, Widana menyebut tak hanya Massker yang diserang. Nama-nama lain seperti Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Hanura Gede Pasek Suardika (GPS), I Gede Ari Astina alias Jerink Superman Is Dead (SID), dan Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik alias Niluh Djelantik (ND) juga jadi bulan-bulanan para buzzer ini.

“Ada saja yang diomongin oleh Pasek Suardika. Mungkin hobinya kali memang suka ngoceh ketimbang bekerja menghasilkan sesuatu. Bapak Kapolda mau lama mau bentar memangnya kenapa Pak Pasek Suardika? Memangnya ada aturan yang tidak membolehkan seorang kapolda menjabat lama? Pak Pasek mau jadi Kapolda di Bali ya? Wkwkwkwkwk,” tulis akun fb Putu Pasek Windra, Sabtu (17/10/2020). Akun fb yang sama juga pernah menyentil GPS dan meminta mantan anggota DPR RI dan DPD RI itu tidak perlu banyak bacot. “Ga usah ngebacot teriak-teriak sok nantang orang begitu. Kamu lebih dulu ditantang sama poklinya gubernur di bulan Maret kenapa tidak nongol? Sekarang teriak-teriak nantang balik. Giliran kamu ditelpon langsung sama gubernur jawabnya nggih Bli, nggih, Bli. Ten Bli nike anak-anak. Apaan coba kalau sudah begitu!!,” tulisnya, Jumat (11/9/2020). Akun fb Putu Pasek Windra juga menyebut GPS memiliki kemampuan dan daya pikir jauh di bawah para influencer pada Kamis (2/9/2020).

Serangan buzzer ini ke Jerink lebih kasar lagi. “Sing jerih, jering bulune makejang. Jani makejang anak pelihin ajak penggemarne ulian bungut sang idola pelih mamunyi. Baliho yang dibuat dengan dana swadaya kesadaran warga dan masyarakat untuk melindungi keluarga dan lingkungannya masing-masing dirusak akibat omongan teori konspirasi ala jrx. Besok suruh jrx maju nyalon jadi bupati, gubernur atau presiden bila perlu. Kalau Jrx terpilih dan menjabat biar kalian bisa menilai dan mengkritik kinerjanya seperti apa. Biar kita lihat seberapa kemampuan kinerjanya kalau dia mimpin. Bukan cuma ngoceh di media. Beranikah??” tulis akun fb Putu Pasek Windra, Sabtu (22/8/2020).

Niluh Djelantik dicap sebagai tukang bikin rusuh oleh akun fb Putu Pasek Windra. “Lihatlah. Alam itu tidak bisa dikelabui kalau dasar memang suka bikin ribut di manapun kamu berada pasti rusuh. Tidak di masyarakat, tidak di pemerintahan, bahkan di rumah sendiri pun bikin rusuh. Tidak heran kalau Pak Putu (I Gusti Putu Artha, red) akhirnya sekubu sama kamu sebab yang sesama pasti ngumpul. Lintah pasti ngumpul sama lintah, cacing pasti ngumpulnya sama cacing,” tulisnya memaki peraih penghargaan internasional Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards 2010. Tim buzzer juga diketahui sempat mendoakan agar ibu sang desainer perancang busana sejumlah pesohor Hollywood ini terinfeksi Covid-19.

“Eeehh Nyai Luh. Makejang anak ketarang nyai. Sing med-med nyai ngae uyut. Makejang nyama Bali ajak nyai uyut. To ngorang iban nyai sayang Bali? Engkenang nyai membela Bali nyai pedidi nganten ajak bule. Nyai to warga negara ije sebenar ne?? Ake dot nawang. Gardu listrik jangkutin Luh!!! Kecup tai cicing meguleganting,” tulis akun fb Putu Pasek Windra, Kamis (28/5/2020).

Lebih jauh, Widana juga meminta Gubernur Bali Wayan Koster membaca lebih cermat surat yang dikeluarkan Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara, Agus Pramusinto. Dalam surat nomor B-2708/KASN/9/2020 tertanggal 18 September 2020 yang dikirimkan kepada seluruh Gubernur, Bupati/Walikota se-Indonesia itu dituangkan dengan jelas bahwa ASN, tenaga honor atau kontrak daerah dilarang berpolitik.

“Pada poin ke-3 ditulis dengan gamblang bahwa instansi daerah agar melakukan pengawasan netralitas terhadap tenaga honorer/pegawai kontrak dan sejenisnya. Penjatuhan hukuman atau sanksi terhadap tenaga honorer atau pegawai yang melanggar netralitas mengacu pada perjanjian kontrak kinerja dan ketentuan produk hukum kepala daerah,” ucapnya.

“Pertanyaan saya apakah Tim Komunikasi Digital Gubernur Bali ini Bapak Koster gaji memakai uang dari kantong pribadi atau pajak yang masyarakat setorkan ke kas daerah ya? Kalau Bapak gaji dengan uang pribadi tentu saya yang salah bertanya tentunya. Namun, jika Bapak menggaji Tim Komunikasi Digital Gubernur Bali ini dengan uang APBD Bali tentu mereka tidak boleh ikut-ikut berpolitik sesuai bunyi aturan yang berlaku,” tutup Widana. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker