Peristiwa

Tak Ingin Ada “Kambing Hitam”, Ecy Harap Koster Klarifikasi

PROFESIONAL: Putu Dessy Fridayanthi alias ECY MC Bali mengatur sebuah acara resmi kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. 

 

DENPASAR, BaliPolitika.Com– Putu Dessy Fridayanthi alias ECY MC Bali jadi buah bibir pasca memposting pengalaman pribadinya saat didapuk menjadi MC (Master of Ceremony), Jumat (10/9/2021) lalu. Merespons kisruh yang terjadi akibat unggahan di akun media sosial pribadinya sosok yang kerap dipercaya meng-handle acara seremonial Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo itu pun buka suara. Tujuannya satu. Ia tak ingin pihak-pihak yang tidak bersalah menjadi kambing hitam. Ada 16 hal yang disampaikan Ecy untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi karena sejumlah pihak menyebut peristiwa tersebut hoaks alias bohong.

“Teman- teman yang baik hati, karena banyak banget yang masih bertanya tentang kronologis kejadian pada hari Jumat lalu, tanggal 10 September 2021, supaya tidak simpang siur dan akhirnya mengomentari yang tidak-tidak dan menyalahkan pihak-pihak yang tidak bersalah sebagai kambing hitam, saya cerita ya gini kronologis sebenarnya,” ungkapnya merinci satu per satu kronologis dimaksud. Klarifikasi ini tidak diedit sedikit pun dan murni pernyataan Putu Dessy Fridayanthi alias ECY MC Bali.

  1. Pada hari Kamis, tgl 9 September siang, saya dihubungi EO untuk dapat menjadi MC di suatu acara di daerah Badung – Bali, untuk hari Jumat tgl 10 Sept 2021. Kemudian saya minta dikirimin susunan acara utk mengetahui pejabat siapa saja yang akan datang di acara tersebut. Dan disana tertulis, “Menteri didampingi oleh Gubernur Bali”. Saya langsung tanyakan saat itu ke EO, mas ini Gubernur sudah ada konfirmasi akan hadir atau tidak? Jawabannya : ya mbak, update terakhir katanya Gubernur akan hadir mendampingi Menteri. Saya langsung komen dong, wah kalo beliau hadir, MC nya pasti gak boleh cewek. (krn pengalaman saya 3 tahun terakhir ini spt itu). Coba mas tolong dikonfirmasi dulu ke Protokol Gubernur atau ke client, saya sampaikan begitu ke EO. EO menjawab, siap mba.
  2. Masih di hari Kamis, tgl 9 September 2021, pukul 19.45 WITA, saya dihub EO lagi, dan dia mengatakan, FIXED ya mba Ecy acara besok confirmed. Kita gladi jam 10 pagi. Tentu saya tanya lagi, sudah disampaikan ke protokol Gubernur kalo MC nya cewek mas? Jawaban EO, ini protokol Gubernur sedang rapat di dalam, sudah saya kasi susunan acara dan mereka sudah tau MC nya mba Ecy. Gubernur hanya mendampingi Menteri mba, tidak ada speech, hanya sebagai undangan. Oh OK gitu piker saya. Mungkin karena Gubernur hanya sebagai undangan ya, makanya MC boleh cewek, gitu pikiran positif saya.
  3. Jumat, 10 September 2021. Saya tiba di lokasi acara pukul 10.00 pagi bersama asisten saya. Setelah melakukan swab antigen dan keluar hasil negative baru kami dipersilahkan memasuki lokasi acara dan melakukan briefing dengan pihak EO dan client dan kemudian dilanjutkan dengan gladi. Acara rencana akan dimulai pukul 14.00 WITA.
  4. Kemudian saya gladi dengan EO dibawah arahan protokol Kementrian dan disaksikan Team Protokol Gubernur yang SUDAH HADIR saat kami melakukan gladi. Ada 3 orang team Protokol Gubernur yang hadir saat acara. Saya melakukan blocking, di posisi mana saya nanti seharusnya berdiri saat acara dimulai, dan kemudian membacakan susunan acara satu persatu. Saya diarahkan oleh protokol kementrian untuk berdiri di depan para tamu VIP di samping panggung. Banyak perubahan acara yang terjadi saat gladi, sehingga tidak memungkinkan EO utk mengganti script MC krn acara sudah mepet akan dimulai. Jadi saya ngemsi hanya membawa susunan acara yg sudah dicoret2 krn ada perubahan acara dari yang rencana semula. Dan ini memang merupakan hal yang wajar terjadi dalam penyelenggaraan event. 
  5. Pesan protokol Kementrian kepada saya, Mba Ecy nanti tolong perhatikan dengan seksama pergerakan Menteri, supaya acara tidak ada jeda dan tidak mendahului pengucapan jika Menteri belum siap. Dengan kata lain saya harus fokus dan BISA MELIHAT SECARA LANGSUNG SAAT ACARA SUDAH DIMULAI.
  6. Pada saat gladi, salah satu protokol Gubernur menghampiri saya dan mengatakan, “ Mba nanti kalau menyebut nama Gubernur jangan pakai “I” ya, cukup Wayan Koster.  Saya jawab OK. Jadi pada saat gladi salah satu protokol Gubernur sudah berkomunikasi dengan saya, dan hanya berpesan seperti itu. TIDAK ADA melarang saya tampil di depan panggung. Lagi-lagi pikiran positif saya, Oh mungkin karena Gubernur hanya mendampingi menteri ya, jadi MC nya boleh perempuan. Baiklah, terimakasih atas kemurahan hati ini, gitu kata saya dalam hati.
  7. Kemudian saya bergegas untuk berganti pakaian krn info dari protokol kementrian, rombongan sudah meluncur ke lokasi acara. Saya membawa 4 pilihan pakaian ke lokasi acara agar bisa dipilih oleh client, yang mana sebaiknya saya pakai, disesuaikan dengan tema acara.
  8. Setelah berganti pakaian dan touch up make up, saat saya akan standby ke lokasi acara, mau keluar dari tempat ganti, EO tiba2 dateng ke saya, dan mengatakan, Mba Ecy, nanti ngemsinya dari sini aja ya. Gak usah keluar. HAH? Saya kaget dong, maksudnya pak? Kata client lagi, iya arahan dari protokol Gubernur , Mba gak boleh keluar ngemsinya, dari dalem saja. Trus, protokol Mentri udah tau? Saya tanya. Ini mau saya kasih tau sekarang kata EO nya. Pas kita ksih tau MC gak boleh keluar, tentu protokol Kementrian kaget juga dong. Lebih tepatnya BINGUNG. Dia tanya alasannya ke EO, jwban EO, arahan dari Protokol Gubernur. Ketika ditanya alasannya ke protokol Gubernur, jwbannya atas arahan Gubernur. 
  9. Protokol mentri mulai gusar dong, gimana mungkin MC bisa membawakan acara jika tidak melihat situasi apa yang terjadi di luar sana. Sementara tadi saat gladi sudah di tekankan, MC harus FOKUS dan MELIHAT langsung pergerakan Menteri agar acara dapat berjalan lancar. Protokol Mentri kemudian, meminta kpd protokol Gubernur utk mengijinkan MC (saya) utk dapat berdiri di belakang penonton saja, yg notabene sangat jauh dari panggung, namun masih dapat melihat pergerakan apa saja yg terjadi di depan panggung. Itupun TIDAK DIPERBOLEHKAN. Protokol Kementrian hanya bisa geleng2 kepala dengan aturan ini. Tapi mrk tidak mau berdebat lebih lanjut, karena acara akan segera dimulai.
  10. Kata Protokol Gub, ada 1 teman saya yg sudah berdiri di depan panggung yang akan menginformasikan saya kapan acara bisa dimulai melalui HT, dan nanti saya yg akan memberitahu ke MC kapan harus ngomong. OMG! Saya speechless dengernya. Mohon maaf ya, ini ibarat orang buta(maaf saya pakai perumpamaan ini,krn saya tidakbisa melihat situasi diluar), orang buta yg disuru ngomong,berbicara menceritakan apa yg dia bisa lihat, sampaikan. Maka saya bilang, sepanjang 23tahun perjalanan karir saya sbg MC, saya belum pernah diperlakukan seperti ini dan belum pernah membawakan acara dengan cara begini. 
  11. Kalian bisa bayangkan gak gimana gondok dan keselnya saya saat itu? Kalo memang saya gak boleh MC, ya mbok bilang dari sebelumnya, biasanya kan H-1 udah disuru cancel MC nya kalo perempuan, atau tadi pas gladi kan bisa disampaikan kalo saya gak boleh tampil. Ini udah selesai ganti , make up, udah gladi dengan blocking posisi MC, pas mau keluar ruangan di larang. Saking keselnya saya, saya katakan ke Protokol Mentri, saya gak bisa ngemsi dengan cara begini pak,  saya pulang aja, maaf pak saya gak mau MC. Tapi protokol Kementrian, memohon saya utk tidak pulang, dan minta tolong utk dibantu membawakan acara agar acara Mentri mereka dapat berjalan lancar dan tidak mencoreng nama Mentri mereka nantinya. Belom sempat saya menjawab, dari HT EO sudah mulai rebut dan menyuruh MC utk segera opening krn rombongan telah tiba. MC opening, MC mulai. MC mulai. 
  12. Karena situasi sudah tidak memungkinkan saya utk meninggalkan acara, ya saya inisiatif, buka sepatu, naik kursi agar bisa melihat situasi di luar sana dan memandu acara dari balik jendela tinggi. Karena tadinya saya mau ngintip sedikit aja dari lubang pintu, sudah disuru minggir lagi supaya gak keliatan dari luar. Jadi sampai acara selesai saya membawakan acara dari balik jendela dengan naik kursi. Dan pintu keluar dijaga oleh seorang protokol yg badannya paling besar dari mereka bertiga yg datang, utk memastikan saya tidak keluar selama membawakan acara. 
  13. Akhirnya acara berjalan dengan lancar, walaupun ada beberapa kendala teknis, seperti microphone saya tidak bunyi, mungkin krn jarak yg agak jauh dari server mic diluar sana, namun overall berjalan sesuai dengan arahan protokol Kementrian. Protokol Kementrian mengucapkan banyak terimakasih kepada saya, dan mohon maaf atas ketidaknyamanan saya harus MC dengan cara spt itu. Sementara protokol Gubernur? Setelah rombongan Mentri dan Gubernur meninggalkan lokasi acara, mereka pun langsung balik badan bubar jalan. 
  14. Jadi seperti itu kronologis kejadian sesungguhnya di lokasi acara pada Hari Jumat 10 September 2021, yang saya ceritakan sejujur2nya dan tidak saya lebih2kan. Semoga kalian bisa memahami, kenapa akhirnya saya lampiaskan kekesalan saya di IG story saya, setelah berpuluh kali sebelumnya sering mendapatkan cancellation dari client ataupun EO sejak Gubernur menjabat, dengan alasan, atas permintaan protokol Gubernur, MC nya harus laki-laki, atau MC harus dari protokol Gubernur (ya laki-laki juga) selama kurang lebih 3 tahun terakhir ini.
  15. Terimakasih sudah mau membaca cerita panjang lebar yg aneh tapi nyata ini. Dan jika ditanya apa harapan saya sekarang kepada pihak Pemprov Bali? Saya ingin tanggapan atau klarifikasi atas perlakuan kurang menyenangkan yg saya alami, alasannya apa sehingga saya diperlakukan spt tahanan perang? Dan tentu harapan saya, mewakili teman2 saya kaum wanita para pekerja yg professional di bidangnya adalah : Setelah kejadian ini, kami kaum wanita pekerja event pada khususnya, DIIJINKAN untuk membawakan acara2 yang dihadiri oleh Gubernur Bali, jangan disuru ngumpet, diposisikan selayaknya sebagai MC yang membawakan acara diatas / samping panggung. Dan tidak lagi dicancel mendadak karena acara yg akan dibawakan akan dihadiri Gubernur Bali, maka MC nya harus laki-laki. HENTIKAN DISKRIMINASI kepada kami kaum wanita di BALI. Kami berhak untuk bekerja dan berkarya sesuai profesi kami masing2.

“Mohon segera direspons oleh pihak Pemprov Bali atau Gubernur Bali langsung. Terima kasih. Denpasar, 12 September 2021. Putu Dessy Fridayanthi (ECY MC Bali)” tulis Ecy pada poin ke-16 pernyataan tertulisnya. (tim/bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker