Pendidikan

Support Tuna Netra, Stikom Bali Sumbang Komputer untuk Pertuni

Rektor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan serahkan bantuan komputer kepada Ketua Pertuni BaIi, Gede Winaya.

 

DENPASAR, BaliPolitika.Com- Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Provinsi Bali menerima bantuan seperangkat komputer all in one dari ITB STIKOM Bali. Bantuan itu diserahkan Rektor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan kepada I Gede Winaya beberapa waktu lalu. Komputer dengan spesifikasi merek HP, UKURAN 20 INCE, os WINDOWS 10 dengan RAM 4 GB ini akan digunakan di sekretariat DPP Pertni Bali di Jalan Serma Mendra No. 3 Denpasar.

Gede Winaya mengaku DPD Pertuni Bali memiliki seperangkat komputer tetapi super lelet. Pihakanya menyampaikan terima kasih kepada ITB STIKOM Bali yang memberi komputer baru sehingga pihaknya bisa bekerja maksimal.

“Sebelumnya kami sudah punya, tetapi mungkin komputer sudah lama sehingga lelet sekali. Makanya kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada ITB STIKOM Bali mau membantu kami dengan perangkat baru ini,” ungkap Gede Winaya

Agar bisa dioperasikan oleh para tuna netra, Gede Winaya menyebut harus dipasang aplikasi khusus. “Sudah ada aplikasi yang memudahkan tuna netera menggunakan komputer atau laptop bahkan smart phone. Jadi nanti kami akan pasang alatnya di komputer ini baru digunakan tuna netra. Tapi kalau orang normal yang pakai, alatnya dilepas,” terangnya.

Rektor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan sebellumnya sempat menerima curhat alias curahan hati soal nasib para tuna netra yang ingin melanjutkan kuliah. Ungkapnya, di Bali saat ini baru Universitas Hindu yang mau menerima mahasiswa tuna netra, terutama di Fakultas Keguran dan Fakultas Hukum. Padahal, menurutnya, banyak juga para tuna netra yang tertarik kuliah di fakultas lain, termasuk teknologi informasi. “Anggota kami sebanyak 480 orang tersebar di seluruh Bali,” tukasnya.

Mendengar curhat Gede Winaya, Dadang Hermawan pun langsung merespons. Kata Dadang, selama ini, ITB STIKOM Bali tidak membeda-bedakan asal-usul mahasiswa, mahasiswa normal atau yang memilki kebutuhan khusus, seperti para tuna netra. Semuanya sama.

“Pada prinsipnya kami siap menerima. Kalau soal teori mungkin bisa didengarkan melalui suara. Yang mungkin perlu kami pikirkan adalah bagaimana prakteknya,’ terang dadang Hermawan. (rls/bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker