Politik

Sumerta: Masyarakat Karangasem Harus Waspadai Penggiringan Opini!

KARANGASEM, BaliPolitika.Com– Kekuatan penuh dikerahkan PDI Perjuangan di bawah komando Gubernur Bali Wayan Koster untuk membuat seluruh kabupaten di Bali “Satu Jalur”. Selasa (13/10/2020), anggota DPR RI PDIP, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan asal Denpasar terlibat dalam simakrama di Banjar Tri Wangsa, Desa Sibetan, Bebandem, Karangasem. Tak hanya Alkel, Bupati Gianyar sekaligus Ketua DPC PDIP Gianyar I Made Agus Mahayastra juga turut serta terjun ke Karangasem. Kondisi inilah yang oleh sejumlah netizen diplesetkan dengan istilah Pilbup Karangasem rasa Pilgub alias pemilihan gubernur.

Tak hanya di darat, paslon nomor urut 2, I Gusti Ayu Mas Sumatri- I Made Sukarena juga menerima serangan udara “bertubi-tubi” oleh sejumlah pihak. Salah satunya dilancarkan oleh akun facebook Van Darmika yang berdasarkan penelurusan diketahui merupakan “anak buah” anggota DPR RI PDIP, I Gusti Ngurah Kesuma Kelakan. Pendukung Mas Sumatri- Sukarena terpantau juga menyentil beberapa nama yang diduga merupakan tenaga kontrak di instansi pemerintahan karena turut serta “menyerang” sang petahana di medsos.

Selain itu, Massker- sebutan lain Mas Sumatri dan Sukarena- juga harus menghalau sekaligus meluruskan sejumlah berita yang diduga sengaja digulirkan untuk menggiring opini masyarakat. Pengadaan 512.797 buah masker senilai Rp 2,9 miliar bulan September 2020 lalu salah satu contohnya. Sebuah situs web berita di Karangsem terpantau mengutip sebuah berita berjudul “Dinas Sosial Karangasem Buat Pengadaan Masker, Nilainya Fantastis”, Selasa, 22 September 2020 dan diunggah Pukul 18.13 Wita. Admin situs web itu sendiri menulis judul “Anggaran 2,6 Miliar untuk Beli Masker, Mending Buat Beli Sembako”. Narasi ini dinilai menyudutkan Pemkab Karangasem yang dipimpin Mas Sumatri sebelum dirinya digantikan Pjs Wayan Serinah.

Dugaan penggiringan opini ini mendapat perhatian serius petani muda bernama I Nengah Sumerta. Sumerta mengkritisi media dimaksud yang hingga Selasa (13/10/2020) terpantau mempublikasikan 12 berita positif tentang Dana-Dipa, tepatnya pada 23 Agustus 2020; 5, 6, 13, 20, 23 September 2020; 3, 5, 6, 7, 9, dan 12 Oktober 2020. Berita berjudul “Dinas Sosial Karangasem Buat Pengadaan Masker, Nilainya Fantastis”, pada Selasa, 22 September 2020 dinilai kurang berimbang karena tidak melakukan konfirmasi lebih lanjut dengan pihak yang melakukan pengadaan masker gratis untuk masyarakat itu.

Tegas Sumerta seharusnya media tersebut melakukan konfirmasi langsung dengan Panda Konveksi dan Addicted Invaders selaku pihak penyedia. Bukan justru beropini bahwa Dinas Sosial Karangasem diam-diam membuat pengadaan masker dari refocusing anggaran bidang kesehatan yang dikeluarkan melalui Perkada. Pada bagian inilah akhirnya opini liar menggelinding. Sebab media tersebut menulis ada selisih harga senilai Rp 1.200 rupiah dari harga per masker yang dicantumkan dalam RAB Dinas Sosial Karangasem.

“Penggiringan opini untuk menciptakan kebencian itu memang asyik. Apalagi dengan tujuan membohongi masyarakat awam akan mekanisme pengadaan. Mereka tidak tahu bahwa pagu (batas pengeluaran tertinggi, red) pemerintah pasti lebih mahal karena ada aturan yang harus diikuti,” ucap Sumerta.

Ditambahkannya, berdasarkan hasil penelusuran ke penjahit masker tersebut didapat kalkulasi data sebagai berikut. Ni Nyoman Yessi Anggani, owner Panda Konveksi mengaku menerima harga per masker Rp 5.700. Dia merinci produksi per masker yang dikerjakannya senilai Rp 4.800 rupiah. Rincian per pieces mencakup bahan Rp 2.000, ongkos jahit Rp 300, ongkos sablon Rp 500, press logo Rp 1.200, packing + plastik Rp 300, biaya lembur Rp 500. Anggaran masker Rp 5.700 belum potong pajak 11,5%. Panda Konveksi mempekerjakan penjahit 10 orang, tukang sablon 6 orang, karyawan press 8 orang, packing 6 orang dan mengerjakan pesanan 300 ribu masker.

Di sisi lain, melalui owner Addicted Invaders, Jalan Serma Gejer, Lingkungan Belong, Karangasem, I Kadek Sugiantara diketahui detail pengerjaan 212.797 buah masker dengan harga satuan Rp 5.700 dipotong pajak 11,5%. Rincian produksinya kain + potong laser + jarit Rp 2.500, sablon logo digital Rp 1.200, packing + plastik Rp 300, lembur Rp 500. Total Rp 4.800 di luar biaya transportasi dan operasional lainnya. Addicted Invaders melibatkan 16 orang dengan jam kerja mulai jam 7-10 malam.

“Production cost Rp 4.800, Ppn 10% Rp 480, Pph 1,5% Rp 72. Keuntungan sah menurut Undang-undang maksimal 15%. Anggap saja cuma 10% Rp 480. Dari anggaran Rp 5.700 rupiah, uang yang balik ke kas daerah adalah Rp 500 rupiah. Sementara keuntungan maksimal per masker adalah Rp 480 rupiah per masker. Jelas sekali ini penggiringan isu,” ungkap Sumerta sembari mengajak masyarakat untuk lebih cerdas agar tidak tersesat memahami sebuat berita. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker