Politik

Sebut Karangasem Paling Tertinggal di Bali, Gede Dana Dinilai Sebar Hoaks

KARANGASEM, BaliPolitika.Com– Sesi kedua Debat Terbuka Pilkada Karangasem 2020, Sabtu (28/11/2020) malam memberi kesempatan bagi masyarakat menilai kualitas Bupati dan Wakil Bupati Karangasem ke depan. Visi-misi pasangan calon (paslon) nomor urut 1, I Gede Dana- I Wayan Artha Dipa dan paslon nomor 2, I Gusti Ayu Mas Sumatri- I Made Sukerana (Massker) pun sudah dijabarkan. Di debat pamungkas itu, pernyataan I Gede Dana mengundang reaksi. Mantan Ketua DPRD Karangasem itu mengatakan daerah kelahirannya merupakan kabupaten paling tertinggal di Bali. Atas pernyataan ini, Gede Dana dinilai menyebar hoaks alias berita bohong dan tidak berdasar.

Penglingsir dan sameton Karangasem yang kami hormati dan kami cintai. Pembangunan di Karangasem sangat tertinggal dibandingkan dengan kabupaten lain di Bali dalam berbagai bidang. Hal ini disebabkan arah kebijakan pembangunan di Karangasem yang kurang jelas serta tata kelola pemerintahan yang kurang baik. Oleh karena itu, sudah sangat mendesak dilakukan upaya serius untuk melakukan perubahan melalui percepatan pembangunan. Astungkara, atas restu alam semesta dan dukungan sameton Karangasem kami terpilih sebagai bupati dan wakil bupati, kami berkomitmen penuh melaksanakan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali untuk mewujudkan Karangasem Era Baru. Sejalan dengan itu, titiang Dana-Dipa misadia (berkomitmen, red) ngayah secara total, lascarya sekala-niskala. Akan bekerja dengan sungguh-sungguh, fokus, tulus, dan lurus melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya,” ucap Gede Dana, Sabtu (28/11/2020).

Merespons pernyataan bahwa pembangunan di Karangasem sangat tertinggal dibandingkan dengan kabupaten lain di Bali dalam berbagai bidang di era kepemimpinan I Gusti Ayu Mas Sumatri, I Made Juwita meminta Gede Dana tidak asal bicara. Anggota DPRD Karangasem dari Fraksi NasDem itu pun meminta Gede Dana untuk membuka mata dan hati sekaligus mengakui berbagai peningkatan serta capaian Karangasem 5 tahun terakhir.

Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Juwita menyebut bukan Karangasem kabupaten yang pendapatan asli daerahnya paling rendah. Dari 9 kabupaten/kota di Bali, PAD Karangasem dari tahun 2017 hingga 2019 lebih tinggi dari Bangli, Jembrana, dan Klungkung. Pada 2017 PAD Karangasem Rp 198.575.057.000; 2018 Rp 200.361.247.000; dan 2019 Rp 233.013.033.000. “Jadi kalau Gede Dana menyatakan Karangasem paling tertinggal jelas itu pernyataan bohong,” ucapnya.

Imbuh Juwita, predikat 5 kali WTP yang diterima Mas Sumatri dari Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D, orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia juga tidak perlu dibantah. Hal ini diperkuat oleh survei oleh lembaga kredibel Indikator Politik pimpinan Burhanuddin Muhtadi. Survei membuktikan pengelolaan pemerintahan Mas Sumatri bersih. “Banyak fitnah yang ditebar untuk menjatuhkan martabat Mas Sumatri. Dilakukan oleh sejumlah akun media sosial yang terang-terangan mendukung Dana-Dipa. Ironisnya, mereka rata-rata akun palsu. Kini, Bapak Gede Dana mau ikut-ikutan melakukan fitnah tanpa data yang jelas?” tanya Juwita.

Serangan frontal Gede Dana soal infrastruktur, khususnya kualitas jalan dan jembatan juga dengan mudah dimentahkan Juwita. Bebernya, jalan kabupaten dan desa di Karangasem pada 2011 hingga 2015 sepanjang 858,33 km. Panjang tersebut bertambah pada periode 2016-2020 menjadi 1.202,54 km. terdiri atas 701,3 km jalan kabupaten dan 501,2 km jalan desa. Sementara itu, pembangunan jembatan pada 2011-2015 berjumlah 4 buah dengan anggaran Rp 22,9 miliar, sedangkan pada periode 2016-2020 berjumlah 11 buah dengan nilai Rp 20,8 miliar rupiah. “Soal jalan, tentu masyarakat Karangasem yang pernah bepergian ke kabupaten lain, khususnya Tabanan bisa melakukan penilaian yang jujur,” sentil Juwita.

Lebih lanjut, di bidang pendidikan Mas Sumatri juga berhasil menekan angka buta huruf.  Berkurang dari sebelumnya 18,58 persen di tahun 2015 menjadi 14,9% di tahun 2019. Tingkat lamanya siswa sekolah naik dari 5,8 tahun pada 2015 menjadi 6,31 tahun di tahun 2019. Jumlah gepeng juga berhasil dikurangi dari 242 kepala keluarga di tahun 2016 menjadi 70 kk di tahun 2019. Kami juga berhasil meningkatkan anggaran kesehatan dari Rp 279 miliar di tahun 2010-2015 menjadi Rp 781,5 di tahun 2015-2020. Kami juga memberikan konsumsi penunggu pasien sebanyak 81 ribu orang. Kartu Karangasem Sehat (KKS) kepada 116 ribu penerima manfaat.

Ditambahkan Juwita, sebelum pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia dan segala penjuru dunia, Karangasem juga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dengan konsep Karangasem The Spirit of Bali. Kunjungan wisatawan ke Karangasem periode 2016-2019 naik sebesar 337%. Dari sebelumnya 454 ribu kunjungan wisatawan di tahun 2016 menjadi 1,5 juta kunjungan di tahun 2020.

Daripada memilih calon pemimpin yang ambisius hingga sampai-sampai menyebarkan berita hoaks dan tidak mendidik, Juwita mengajak masyarakat Karangasem untuk memberikan kesempatan kepada Mas Sumatri dan Sukerana untuk melanjutkan pembangunan menuju Karangasem The Spirit of Bali. “Daripada ngulang kembali dari nol, lebih baik yang sudah bagus dilanjutkan,” tegasnya sembari mengapresiasi program kerja Massker terkait digitalisasi penerimaan pendapatan dari berbagai sektor untuk mengoptimalkan pendapatan asli daerah. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker