Pariwisata

Rugi 9,7 T Per Bulan, Bali Lirik Industri Kreatif

DENPASAR, BaliPolitika.Com– Bali kehilangan sekitar Rp 9,7 triliun setiap bulan akibat lumpuhnya sektor pariwisata.  Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Sumber Daya Mineral Provinsi Bali, per 25 Mei 2020, sebanyak 71.313 tenaga kerja sektor formal di-PHK dan 2.570 orang kehilangan pekerjaan. Jumlah ini dipastikan bertambah karena pertumbuhan kasus Covid-19 di Pulau Dewata meningkat tajam.

Dalam Web Seminar (Webinar) Institut Pariwisata Bali (IPB) Internasional dalam Webinar Series 4 “World Tourism Day 2020” bertajuk New Era Tourism Order yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu (3/10), Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menyatakan pandemi COVID-19 membawa dampak yang signifikan bagi semua aspek kehidupan masyarakat Bali, baik secara ekonomi, sosial, dan budaya.

Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I tahun 2020 minus 1,14%, sedangkan pada triwulan II tahun 2020 perekonomian Bali menurun lebih dalam hingga minus 10,98%.  Pertumbuhan yang lambat ini disebabkan oleh penurunan tajam pendapatan dari sektor utama Bali, yaitu pariwisata.  Jumlah wisatawan mancanegara di Bali telah menurun sejak awal pandemi hingga 99,97 persen pada Mei 2020. “Bali mengalami kerugian sekitar 9,7 triliun Rupiah setiap bulan dari sektor pariwisata saja.  Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Sumber Daya Mineral Provinsi Bali, per 25 Mei 2020, sebanyak 71.313 tenaga kerja sektor formal di-PHK dan 2.570 orang kehilangan pekerjaan,” ucapnya.

Meski demikian, Cok Ace optimis bila situasi pulih Bali akan cepat bangkit. Pasalnya, Bali mendapat tempat tersendiri di mata industri pariwisata internasional, keunikan pariwisata budaya Bali menarik perhatian dunia internaisional dan hal tersebut dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diraih.

Sembari menunggu situasi kembali normal dan industri pariwisata kembali bergeliat, Cok Ace menyebut industri kreatif patut digarap serius. Sektor ini sedang berkembang di Indonesia dan terbukti sebagai industri paling menguntungkan secara nasional melalui peningkatan nilai tambah produk sebagai hasil kreativitas dan inovasi seseorang.  Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat, industri kreatif memberikan kontribusi sekitar Rp 989 triliun pada PDB nasional 2017 atau sekitar 7,28 persen.  Kontribusi sektor ini sebenarnya terus meningkat dimana pada tahun 2017 tumbuh 5,07 persen.  Selain itu, industri kreatif menyediakan 17,7 juta lapangan kerja atau sekitar 14,61 persen dari angka penyerapan tenaga kerja nasional.  Pekerja industri kreatif rata-rata menerima gaji 2,23 juta rupiah.  “Melihat potensi yang luar biasa ini, saya sangat berharap Bali bisa menjadi yang terdepan di Indonesia dalam mengembangkan industri kreatif”, ujarnya.

Lebih lanjut, dikatakan Bali kaya akan seni dan budaya. Hal ini menjadikan Bali memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan sektor pariwisata dan industri kreatif.  Secara nasional jumlah subsektor industri kreatif tertinggi adalah kuliner (41,47%), fashion (17,68%) dan kerajinan (14,99%).  Bali memiliki peluang yang menjanjikan untuk mengembaongkan kuliner, fashion, seni rupa, dan seni pertunjukan.  Misalnya, Ubud pernah mendapatkan penghargaan dari UNWTO sebagai Global Gastronomy Destination pada tahun 2019. Selain terkenal dengan mahakarya seninya seperti lukisan dan tari tradisional, Ubud ternyata juga memiliki potensi kuliner lokal. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker