Kesehatan

RS Swasta Bali Seperti Kuda Kelelahan

Opini Ketua ARSSI Bali, I.B.G. Fajar Manuaba

Sebentar lagi umat Hindu di Bali menyongsong Hari Raya Galungan dan Kuningan. Disambut dengan penuh suka cita karena merupakan simbol kemenangan dharma melawan adharma. Sebelum Hari Raya Galungan dan Kuningan, diawali hari baik untuk menikah, ngaben, dan upacara adat lainnya. Dari media sosial jelas terlihat foto pelanggaran protokol kesehatan oleh masyarakat yang mungkin disadari atau tidak namun telah menjadi jejak digital di internet. Fakta yang ada, salah satu rumah sakit swasta di Bali telah melaporkan adanya kedatangan pasien dalam jumlah besar di IGD yang diduga kasus Covid-19. Sumbernya dari tajen alias sambung ayam. Di musim Covid-19 masih adakan tajen?

Bagi rumah sakit justru kondisi sekarang ini merupakan mimpi buruk yang jadi kenyataan. Akhirnya Bali mendapat gelar nomor satu di media sosial dalam capaian kapasitas kamar perawatan Covid-19 alias kurang kamar perawatan. Kami sebagai Ketua ARSSI sudah mengingatkan sejak 18 Juli 2020 di media massa dengan judul “Ketua ARSSI Bali Minta Anggotanya Siap Perang”. Perang melawan wabah Covid-19 justru terus berlanjut sampai sekarang yang kita sama-sama tidak tahu kapan berakhir. Kondisi ini juga membuktikan pengobatan alternatif Covid-19 yang diperkenalkan kepada masyarakat belum menunjukkan efektivitasnya.

Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dr. Kuntjoro AP, MKes dalam salah satu presentasinya menyampaikan bahwa kita telah mengalami 4 gelombang besar pandemi Covid-19 menghantam sistem pelayanan kesehatan. Sayangnya, gelombang tersebut sudah melanda Pulau Bali yang kita cintai dan kita banggakan sebagai sorga dunia. Apa saja gelombang itu ?

Gelombang satu, Kesakitan dan Kematian akibat Covid-19. Buktinya sudah jelas. Kasusnya meningkat. Apalagi kalau dihubungkan banyaknya kasus yang tertahan di ruang isolasi IGD rumah sakit yang belum mendapatkan ruang rawat inap atau rujukan ke RS rujukan Covid. Bahkan sudah terjadi pasien keburu meninggal tanpa sempat dirujuk ke RS rujukan Covid karena kapasitas perawatan sudah penuh. Atau justru sebaliknya pasien umum Non Covid-19 dilayani di teras IGD karena kapasitas ruang IGD sudah penuh kasus Covid-19.

Gelombang dua, Krisis Keuangan Rumah Sakit. Dalam wawancara di salah satu TV Swasta sudah kami nyatakan bahwa Rumah Sakit Swasta di Bali dirugikan oleh kasus Covid-19. Kalau boleh memilih lebih baik tidak melayani kasus Covid-19 karena masih banyak kasus lain yang perlu dilayani. Jadi salah besar bila dikatakan bahwa rumah sakit swasta maupun pemerintah diuntungkan oleh adanya kasus Covid-19 apalagi dianggap bagian dari teori konspirasi. Bermula pada bulan April, ketika Kementerian Kesehatan mengeluarkan kebijakan agar rumah sakit mengurangi layanan praktik rutin kecuali dalam kondisi gawat darurat.

Pada saat yang sama masyarakat juga membatasi kunjungan ke rumah sakit karena takut tertular Covid-19. Kebijakan dan fenomena ini mengakibatkan penurunan signifikan jumlah pasien yang berobat ke rumah sakit dan akibatnya pendapatan rumah sakit anjlok. Menurunnya pendapatan terasa semakin berat, karena pada saat yang bersamaan pengeluaran rumah sakit justru meningkat. Rumah sakit harus melengkapi sarana prasarana dan peralatan untuk menghadapi serangan pandemi yang terus meningkat.

Pengeluaran rumah sakit untuk melengkapi sarana prasarana dan peralatan diperparah dengan tidak adanya operasi pasar sehingga harga dapat naik turun seperti bursa saham. Pemerintah Pusat sudah berusaha membantu memberikan kelonggaran bagi rumah sakit non rujukan untuk mengajukan klaim pelayanan wabah Covid-19 namun masih saja ada kendala atau dispute. Semoga kedepannya klaim semakin lancar agar arus kas rumah sakit khususnya swasta tidak terganggu atau malahan bangkrut.

Gelombang ketiga, peningkatan angka infeksi, stres, dan kelelahan tenaga kesehatan. Kejadian kesakitan dan kematian akibat Covid-19 sudah terjadi pada tenaga kesehatan di Bali. Kondisi ini mempersulit posisi rumah sakit swasta karena SDM-nya umumnya pas-pasan sehingga sekali satu kelompok pelayanan terpapar, maka tutuplah layanan tersebut. Sehingga di media massa sudah pernah diberitakan justru IGD tutup karena tenaga kesehatannya terpapar Covid-19. Stres dan kelelahan yang timbul bagi tenaga kesehatan dapat menimbulkan pengunduran diri dari tenaga kesehatan di rumah sakit swasta. Dari sisi dokter spesialis timbul juga stres dan upaya proteksi diri dengan lebih selektif menerima pasien opname bila ada kecurigaan Covid-19 yang dikonsulkan dari IGD. Kondisi stres ini kami anggap manusiawi karena tenaga kesehatan juga manusia bahkan bisa jadi merupakan tulang punggung pendapatan keluarga.

Gelombang keempat, peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit kronis. Pada awalnya gelombang ini belum dirasakan. Namun, setelah wabah Covid-19 memasuki enam bulan sejak diumumkan kasus pertama di Indonesia tanggal 2 Maret 2020 mulai muncul di Bali masalah kesakitan dan kematian akibat penyakit kronis. Masalahnya dimulai dengan stigma masyarakat terhadap fasilitas kesehatan. Terjadilah fenomena penundaan mencari perawatan yang dilakukan oleh para penderita penyakit kronis seperti kanker, jantung, gagal ginjal dan stroke. Kondisi semakin parah ketika mulai dilaporkan adanya kasus pasien yang harus cuci darah ternyata disertai dengan positif terkena virus Covid-19. Ada juga kasus pasien yang harus menjalani kemoterapi kemudian terpapar virus Covid-19. Andaikata masalah Covid-19 dianggap selesai, maka kasus akibat penyakit kronis akan muncul ke permukaan sebab selama wabah Covid-19 tidak ditangani secara optimal.

Selain keempat gelombang yang terkait Covid-19 tersebut diatas di Bali terjadi pergeseran klaster: dari klaster di area publik ke klaster keluarga. Akibat klaster keluarga ini munculah kondisi “bedah rumah” artinya satu rumah opname atau dikarantina akibat Covid-19. Makanya gelombang satu, kesakitan dan kematian akibat Covid-19 menjadi makin parah.

Terkait dengan kondisi yang makin sulit di Bali, kita yang masih mencintai Bali tetap harus berupaya minimal kita tetap melaksanakan protokol kesehatan dan menjaga kelompok kecil kita berupa keluarga. Dengan tren peningkatan kasus Covid-19 di Bali sudah saatnya dipikirkan rumah sakit darurat. Bila kucuran dana dari pemerintah pusat mulai sulit, mungkin perlu dipikirkan untuk melakukan penggalian dana untuk Bali karena kami tahu banyak pihak luar Bali yang mempunyai aset dan investasi di Bali. Mari kita ajak mengucurkan dana merawat Bali untuk kembali sehat. Tanpa dana yang cukup penambahan fasilitas perawatan Covid-19 akan seperti kamar kost tanpa perabotan.

Kami rumah sakit swasta di Bali sudah terkena gelombang kedua, krisis keuangan rumah sakit. Rumah Sakit Swasta di Bali sudah seperti kuda yang kelelahan. Dipecut dengan berbagai surat atau edaran sekalipun jalannya akan tetap pelan untuk menambah fasilitas perawatan Covid-19. Malahan kami dari Rumah Sakit Swasta di Bali justru mengharapkan adanya keringangan atau relaksasi beban tagihan berupa pajak, air, listrik, telepon, dan lain-lain untuk mengimbangi krisis keuangan yang dialami.

Hari Raya Galungan dan Kuningan akan datang tiap enam bulan. Untuk kali ini, kami mewakili Rumah Sakit Swasta Bali mengucapkan “Selamat Hari Raya Galungan Kuningan dengan Penuh Waspada”. Semoga lagu almahum Yopie Latul, Kembalikan Baliku bisa segera terwujud dan semuanya tergantung upaya kita bersama. (opini)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker