Hukum & Kriminal

Respons Ceramah AWK, Ketut Leo: Saya Merasa Disakiti

NUSA PENIDA, BaliPolitika.Com– Rencana kedatangan Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa atau disingkat Arya Wedakarna (AWK) ditolak oleh masyarakat Nusa Penida, Klungkung, Minggu (1/10/2020). Mantan modeling dan cover boy Majalah Aneka itu yang mengklaim diri dilantik sebagai Raja Majapahit Bali sejak 31 Desember 2009 di Pura Besakih dengan gelar Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan itu tidak diperkenankan menginjakkan kaki di Nusa Penida.

Penolakan itu merupakan buntut dari ceramah agama berdurasi 1 jam 03 menit 40 detik yang disampaikan putra alm. I Made Wedastera Suyasa di Pura Siwa Kanginan, Banjar Kebon, Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Tabanan. Berbeda dengan penolakan klaim AWK sebagai Raja Majapahit yang “adem ayem”, kali ini penolakan terhadap senator peraih 742.718 suara ini berlangsung masif. Tak main-main, elemen masyarakat Nusa Penida juga akan melaporkan sosok penganiaya ajudan pribadi itu pada Selasa (3/10/2020) pukul 13.00 ke Polda Bali.

Kebebasan berekspresi yang mencederai kehormatan, kesucian serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan. Pernyataan Presiden Jokowi tersebut jelas I Ketut Lea Wijaya tak hanya berlaku bagi Presiden Prancis Emmanuel Macron, tetapi juga bagi AWK. Pengusaha asal Nusa Penida itu menegaskan pernyataan anggota DPD RI 2 periode itu benar-benar melukai hati masyarakat Nusa Penida.

“Pernyataan Arya Wedakarna di beberapa darma wacana, baik di pura ataupun di banjar maupun tempat upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh umat Hindu Bali, menurut saya pribadi banyak kalimatnya yang seperti menistakan keyakinan umat Hindu Bali. Sekaligus menistakan tradisi serta adat dan budaya Hindu Bali. Contoh seperti cuplikan dalam video saat AWK menghina orang yang rajin ngayah di pura dan yang menghina orang yang kedewan-dewan,” ucap Ketut Leo, Minggu (1/11/2020).

Yang lebih menyakitkan, imbuh Ketut Leo adalah pernyataan AWK yang menyebut seseorang yang biasa nangkil sembahyang di pura hanya sembahyang ke Bhatara-Bhatara lokal saja. “Bahkan dia bilang jika kita yang sering nangkil ke Dalem Ped kalau mati, maka roh kita katanya akan ada di Ped. Tidak akan bisa sampai pada Tuhan katanya. Padahal kita umat Hindu Bali di manapun kita melakukan persembahyangan selalu berpedoman pada Panca Sembah sebagai dasar sembahyang kita,” ungkapnya.

Tak sepakat dengan pernyataan AWK, mengutip literatur, Ketut Leo berkata agama Hindu mengajarkan umatnya dimana pun bersembahyang untuk wajib mengawali dengan ngulengang kayun (memusatkan konsentrasi, red) pada Sang Pencipta. Pertama, memfokuskan pikiran untuk atman (jiwa). Umat Hindu ngaturang sujud sembah bakti kepada Sang Hyang Brahman, Tuhan Yang Maha Kuasa. Kedua, umat Hindu menghaturkan sembah memuja Siwa sebagai Sang Hyang Surya Raditya. Memohon sinar suci tuntunan serta berkat-Nya seraya nunas upesaksi dari persembhayangan yang dilakukan agar diberkati. Ketiga, umat Hindu menghaturkan sembah kepada Ida Bhatara yang berstana di pura atau di tempat persembahyangan dilakukan memohon berkat.

“Karena Ide Bhatara adalah sosok yang harus kita teladani. Tujuan kita sembahyang pada beliau adalah untuk napak tilas pemargi Beliau supaya kita dituntun supaya Tuhan Yang Maha Kuasa beserta sinar sucinya, Dewata- Dewati tedun di ubun-ubun kita untuk memberikan berkat,” ungkap pria murah senyum itu.

Keempat, sembah dihaturkan kepada Dewa Kesamudaye-kesamudaye. “Artinya Ibu Pertiwi Bapa angkase Ide Paduke Dewate Ide Paduke Dewati Nawa Sange lan Ide Dewate Ide Dewati sami sesunan kita yang kita sungsung mangde tedun melinggih ring luwur kita dan memberkati kita lan Ide Betare Ide Betari Sesunan kita sami guna memberkati dan menuntun kita dalam menjalani kehidupan mangda bisa manut dengan sesane dan tugas kita sebagai manusia,” ungkap sang pengusaha.

Sembah ke Sang Hyang Kesamudaye, imbuh Ketut Leo berarti sembah kepada Ibu Pertiwi, Bape Angkase, Ide Dewate Ide Dewati, dan Ide Betare Ide Betari sasuhunan sami sane kesunggsung untuk moho berkat. Sembah terakhir kembali memusatkan pikiran untuk menyatukan pikiran  sebagai merage atme menyembah Sang Hyang Maha Brahman Tuhan Yang Maha Esa dan menghaturkan segala puja dan puji syukur dipanjatkan pada Beliau Alam Semesta Tuhan Yang Maha Esa Yang Maha Ada.

“Kita panjatkan puja dan puji syukur pada Beliau karena Beliau telah menciptakan segala yang ada dan mengatur segala yang ada dengan begitu adil dan sempurna. Telah memberi kita kesempatan untuk hidup guna untuk kita bisa berkesempatan. Untuk menyempurnakan perbuatan kita agar bisa lebih baik guna bisa menemukan jalan sempurna. Supaya kita bisa menyatu pada Beliau Tuhan yang Maha Pencipta segala yang ada,” bebernya.

Sebagai pamuput (penutup) persembahyangan, umat Hindu Bali memohon supaya Beliau memberi kedamaian pada dunia dari segala penjuru mata angin. “Itulah sembahyang Hindu yang sebenarnya sesuai literatur yang saya baca disesuaikan dengan adat dan tradisi yang kami warisi turun-temurun. Ajaran agama mengajarkan kita sebagai manusia harus mengutamakan bakti pada Tuhan. Manusia diajarkan agar jangan sampai tergoda dengan gemerlap duniawi yang begitu indah oleh harta benda. Tuhan menggoda kita dengan harta benda. Tuhan menguji fokus bakti kita pada-Nya. Yang mana kita utamakan? Berbakti pada Tuhan atau ngejar duniawi? Manusia yang baik pasti memilih keseimbangan. Artinya, dalam tiap hari sebelum pergi beraktivitas mencari harta dunia, kita harus sembahyang dulu pada Tuhan baru bekerja,” tegasnya.

Soal istilah kedewan-dewan dalam Darma Wacana AWK, Ketut Leo kembali menyebut banyak dugaan penistaan terhadap agama Hindu Bali yang terjadi. Banyak kata dalam darma wacananya yang menistakan adat, tradisi, serta budaya Bali. “Itu tidak boleh kita biarkan. Bila kita diam dan hanya menonton akan terjadi kehancuran pada keyakinan umat Hindu; kehancuran tradisi Hindu Bali dan adat Hindu Bali,” ungkap Ketut Leo.

Ketut Leo menilai umat Hindu harus mengambil langkah tegas. Kalau bisa, tidak harus dengan melakukan aksi unjuk rasa atau demonstrasi. Jika tidak terencana dengan baik dan matang, ungkapnya demonstrasi relatif rawan penyusup. Bila tidak terkendali, demontrasi turun ke jalan beramai-ramai berpeluang membuat wajah Bali dan citra Bali kurang positif di mata dunia lebih-lebih dilakukan di masa pandemi Covid-19.

“Wajah Bali, kenyamanan Bali, cara orang Bali, adat seni dan budaya Bali harus kita jaga. Tidak boleh terpengaruh cara daerah lain. Kalau pun tersinggung dan sakit hati karena pernyataan Wedakarna yang dinilai menistakan agama, adat Bali, tradisi, serta budaya Bali, sudah ada ruang-ruang untuk itu. Polsek, Polres, atau Polda terdekat di kota Anda terbuka sangat lebar,” ungkapnya.

Imbuh Ketut Leo, warga hadir ke pihak berwajib tidak perlu ramai-ramai. Cukup diwakilkan satu dua orang saja. Bisa oleh Kelian Banjar, Bendesa Adat, Kelian Dadia. “Sameton yang tiang hormati bisa datang secara serentak ke pihak berwajib dengan bukti video untuk melaporkan Wedakarna. Cara ini paling efektif, paling hemat, paling santun, dan paling profesional. Ngiring gunakan cara yang santun dan beretika. Cara yang profesional dan tepat sasaran yang hasilnya pasti memuaskan harapan kita semua. Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang justru dapat mencoreng citra Bali. Salam Ajeg Bali, Rahayu Bali, Bali Santhi. Matur Suksma,” tutupnya. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker