Kesehatan

Puji Koster Stop GeNose, dr. Rai: Bukan Pahit tapi Puahiiiiit

SEBUT KOSTER BERANI: dr. I Gusti Rai Wiguna, Sp.Kj.

 

DENPASAR, BaliPolitika.Com- Pembukaan kran pariwisata internasional ke Bali di bulan Juli 2021 sepertinya akan sulit terwujud. Kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Dewata pun dipastikan tersendat. Hal ini seiring keharusan setiap orang yang masuk lewat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menjalani tes swab PCR atau polymerase chain reaction mulai Selasa (30/6/2021). Hasil rapid antigen atau GeNose C19 ciptaan para ahli dari Universitas Gajah Mada (UGM) yang dideteksi lewat embusan nafas tidak berlaku lagi. 

Kebijakan ini sontak memicu pro dan kontra. Tak sedikit pihak yang mempertanyakan kebijakan Gubernur Bali Wayan Koster perihal pengetatan kembali pintu masuk Bali via udara ini. Sejumlah penumpang juga terang-terangan menyatakan kekecewaan terkait penerapan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 8 Tahun 2021 itu. Pasalnya, otomatis para penumpang harus merogoh kocek hingga Rp 900 ribu untuk satu kali tes swab PCR. Jauh dari harga rapid antigen yang hanya seharga Rp 250 ribu. 

Namun, tak semuanya mengeluh. Banyak pihak yang juga mengapresiasi langkah Koster merespons jumlah kasus positif Covid-19 yang meroket dua minggu terakhir. Dukungan tersebut salah satunya disampaikan dr. I Gusti Rai Wiguna, Sp.Kj. Dokter kelahiran Desa Dalung, Kuta Utara Badung itu menilai Koster berani mengambil langkah yang tidak populis demi kesehatan masyarakat serta pemulihan ekonomi ke depan.

“Pada Pilgub sebelumnya saya tak memilih Pak Koster. Tapi saya harus memuji Beliau yang berani mengambil keputusan berat dan tak populis sekaligus menyulitkan wisatawan domestik untuk datang ke Bali sementara dengan melarang tes GeNose. Dengan rekor kasus di Jawa yang malah lebih tinggi dari tahun lalu, tentu harakiri namanya kalau diundang masuk Bali hanya dengan GeNose yang sudah terbukti meningkatkan angka kejadian 2 minggu terakhir,” ucap dedengkot Yayasan Teman Baik Nusantara dan Yayasan Bali Bersama Bisa itu, Kamis (1/7/2021).

“Bahkan nakalnya pemikiran saya, saat ini lebih aman malah kalau mengundang tamu dari Eropa dan Australia yang kondisinya lebih aman bahkan daripada kondisi Bali saat ini. Dampaknya pada pariwisata kalau mereka masih percaya pada Bali, tentu akan lebih besar dari wisatawan domestik dan risikonya lebih kecil. Tapi, itu cuma pikiran bodoh saya. Dengan asumsi masih banyak bule gila yang terlalu cinta Bali mengabaikan travel warning negaranya. Sebagai tenaga kesehatan yang bekerja di daerah wisata (bergantung pada pariwisata, red) keputusan Pak Koster ini bukanya pahit, tapi puahiiiiit. Tapi mau apa lagi? Saya malah antipati pada petualang politik dan broker media yang memanfaat hal ini mengompori masyarakat tanpa menawarkan solusi apapun. Semoga masyarakat makin menyegerakan vaksin agar Bali segera di atas 70% serta positivity rate segera menurun dan pariwisata cepat pulih kembali sebelum klinik-klinik swasta di daerah wisata termasuk tempat kerja saya bangkrut permanen dan menambah pengangguran di Bali yang sudah banyak,” tandas dokter yang dikenal sangat aktif melakukan kegiatan sosial tersebut. (tim/bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker