Sosial

NKRI, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika Harga Mati

Ponglik: Bali Punya Palinggih Ratu Mekah, Solo, Syahbandar

HARGA MATI: Ketua Pembina Baladika Bali, I Nyoman “Ponglik” Sudiantara (tengah) dalam peringatan HUT Baladika Bali ke-17, 5 Mei 2021 lalu. 

 

DENPASAR, BaliPolitika.Com- Pancasila harga mati. Sebagai ideologi negara yang mampu mempersatukan bangsa, organisasi kemasyarakatan (ormas) Baladika Bali menegaskan bahwa Pancasila sudah final. Penegasan itu disampaikan Ketua Pembina Baladika Bali, I Nyoman “Ponglik” Sudiantara tepat di Hari Lahir Pancasila, Selasa, 1 Juni 2021. Menyapa seluruh komponen paguyuban etnik nusantara, Ansor, Nahdatul Ulama, dan anak ideologis Pancasila di Bali, Ketua DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Provinsi Bali itu menegaskan bahwa Baladika Bali menjunjung tinggi Pancasila dan sangat menghormati kebhinnekaan.

“Kami organisasi kemasyarakatan Bali yang bernafaskan Hindu, namun menghormati dan mencintai kebhinnekaan. Kalau kita berbicara Bhinneka Tunggal Ika yang kalau kita pikirkan kembali secara historis bagaimana foundhing fathers, proklamator, pendiri bangsa ini, Bapak Sukarno, dan seluruh pahlawan yang turut serta memperjuangkan nusantara untuk sebuah sebutan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia, red),” ucapnya ditemui Selasa (1/6/2021).

Jelas Ponglik, Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah kutipan dari Kidung atau Kakawin Sutasoma mahakarya Empu Tantular. Yang menyimpulkan bahwa NKRI didirikan, dibentuk karena sama rasa sama karsa. Tidak berdasarkan suatu keyakinan atau kepercayaan, tapi seluruh komponen dari ujung Barat hingga ujung Timur satu frekuensi membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendiri bangsa ini tegasnya sudah berpikir dan memahami seperti apa mestinya Indonesia ini. Dalam Kidung Sutasoma disebutkan bahwa kita adalah satu dan bersama-sama untuk satu yang kita sebut NKRI.

“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa. Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen. Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal. Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa,” tembangnya yang mengandung makna konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua.

“Artinya komponen bangsa, apapun budayanya, apapun keyakinannya, apapun agamanya, harus menyatukan diri untuk NKRI. Boleh kita berbeda jalan, tapi tujuan kita tetap satu, yaitu untuk NKRI. Inilah makna Bhinneka Tunggal Ika dan jangan pernah didistorsi karena egosentris-egosentris tertentu. Baladika Bali tetap akan menjunjung tinggi wawasan nusantara, tetap akan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika biar tidak mubasir apa yang diucapkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dengan ucapan Sumpah Pemuda,” urai pria dengan julukan Mr. Happy itu.

Sambungnya, dalam Sumpah Pemuda dengan jelas dinyatakan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. “Itu adalah sumpah kita. Kita harus pertahankan sebagai elemen ormas Bali, elemen masyarakat yang ada di Bali. Apapun kepercayaannya Bhinneka Tunggal Ika, NKRI harga mati. Jangan pernah kita didistorsi, jangan pernah kita terprovokasi. Ada begini ada begitu. Tolong dicatat! Pluralisme di Bali sudah ada sejak dahulu kala. Sebuah contoh yang bisa disebutkan masyarakat Bali tetap menghargai dan berkomunikasi dengan baik dengan sesama warga NKRI,” ujarnya.

“Kita punya Kampung Arab. Kita punya tempat yang namanya Kampung Jawa. Kita punya tempat yang namanya Kampung Bugis. Tidak pernah yang namanya kami saling cubit-mencubit. Karena kami meyakini sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Tetua kami, kamu adalah saya dan saya adalah kamu (Tat Twam Asi, red). Kalau saya nyubit kamu, maka saya juga akan merasakan sakit itu. Kebersamaan itu harus tetap kita jaga sampai kapan pun NKRI ini harus tetap dijaga dengan baik,” urainya.

Alumni SMA Negeri 1 Denpasar itu menjabarkan contoh lain bagaimana masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi pluralisme dalam bingkai NKRI. Ungkapnya, hal itu tercermin dari sebuah pura di wilayah Bali Utara bernama Pura Negara Gamburanglayang yang berlokasi di Jalan Pura Negara Gamburanglayang, Desa Kubutambahan, Kubutambahan, Buleleng. Di pura tersebut terdapat palinggih-palinggih yang mencerminkan pluralisme.

“Ada palinggih yang kita sebut Ratu Mekah yang konotasinya adalah Saudara-Saudara kita dari kelompok Muslim yang beragama Islam. Ini buktinya bahwa orang Bali tidak pernah membenci yang namanya agama Islam, tidak pernah membenci agama Kristen, atau apapun itu. Tidak pernah. Ada Ratu Sunda, ada Ratu Solo, semua palinggih itu ada. Ada Ratu Syahbandar sebagai simbolis penghormatan terhadap Saudara China atau Tionghoa. Intinya bahwa orang Bali sejak dulu sudah sangat pluralis dan menghargai perbedaan dalam kebersamaan. Tidak pernah menonjolkan egosintris sendiri, ungkapnya.

Lebih lanjut, Ponglik mencontohkan toleransi masyarakat Bali. Ungkapnya, di Kampung Bugis, kalau warga sedang merayakan Idul Fitri, makan pecalang yang bertugas berjaga. Di Dalung, kalau Natal dan orang-orang Kristiani ngejot kepada warga Hindu Bali. Demikian sebaliknya, saat Galungan, giliran masyarakat Hindu yang ngejot kepada Saudara Kristiani.

“Ini sebuah wujud bahwa orang Bali sangat menghargai dan menghormati siapapun juga, apapun kepercayaannya. Baladika Bali sebagai komponen masyarakat harus melakukan hal seperti itu. Jangan pernah kita terprovokasi, jangan pernah kita terdistorsi karena bahasa-bahasa yang tidak ingin NKRI tegak di nusantara ini. Dari hati yang paling dalam, sebagai Ketua Pembina Baladika Bali mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh komponen masyarakat Bali yang menjaga NKRI dan Pancasila di tanah persada nusantara ini. NKRI, harga mati. Bhinneka Tunggal Ika harga mati. Pancasila harga mati,” tutupnya. (tim/bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker