Gaya HidupKuliner

Nasi Pedas Ibu Andika: Terima Kasih Masyarakat Kuta

Kuta (BaliPolitika.Com) – Banyak jalan menuju tangga sukses. Sri Sriyani menemukan celah sederhana lewat jualan nasi pedas. Mengawali bisnis kecil-kecilan lewat menitip bungkusan nasi di warung, Sri yang datang ke Bali tahun 1986 bermodal Rp 12.000 (Rp 700 rupiah untuk ongkos naik bus, red) nekat jualan nasi bungkus di Pasar Kuta. Dalam rentang tahun 1991-2000 ia jualan mulai jam 3 dini hari hingga jam 9 pagi. Dagangan itu dia jajakan keliling karena tak mampu menyewa tempat. Mulai tahun 2000 di pun ngemper di pinggir jalan Pasar Kuta, tepatnya di sebelah utara Polsek Kuta lama.

Bom meledak di Paddy’s Pub dan Sari Club, Jalan Legian, Kuta, Sabtu, 12 Oktober 2002, penggemar nasi bungkus Sri Sriyani pun ikut “meledak”. Pemantiknya sederhana, nama Sri diubah jadi Ibu Pedas. Dari mulut ke mulut, masyarakat Bali yang getol dengan hidangan pedas kian mengukuhkan posisi Sri Sriyani sebagai penjual nasi pedas. Karena anak pertamanya bernama Andika, agar mudah diingat ia pun menamai usahanya Nasi Pedas Ibu Andika. Dari nyuun, ngemper, kini Nasi Pedas Ibu Andika telah memiliki 3 cabang, yakni di Jalan Raya Kuta, Jalan Patih Jelantik, dan Jalan Blambangan. Cabang keempat dalam waktu dekat akan dibuka di Jalan Nusa Dua, Kuta Selatan.

“Orang-orang Bali di Kuta, Legian, dan Tuban yang memberi nama nasi pedas. Yang paling pertama sekali orang Legian yang akrab disapa Cik. Ketemu di jalan saya dipanggil Bu Lalah. Ketemu di rumah sakit saya dipanggil Bu Pedas. Karena di mana-mana saya dipanggil Ibu Pedas akhirnya saya sambung jadi Nasi Pedas Ibu Andika,” ucap nenek empat orang cucu itu. Sejak pertama kali merantau di Bali, Sri mengaku sama sekali tidak berpikir menjual nasi untuk orang luar Bali. Dia berpikir sangat sederhana. Karena rata-rata orang Bali suka pedas, maka yang dijual adalah nasi pedas. “Di Kuta kala itu belum ada orang yang jualan nasi malam, kecuali saya. Sekarang banyak yang jualan nasi pedas. Bom meledak, saya ikut meledak. Nggak ketulungan ramainya. Beruntung saya diberi nama ibu pedas. Saya sangat berterima kasih. Nama Nasi Pedas Ibu Andika mulai saya pakai sejak 2002. Saat itu masih di emperan Pasar Kuta 1,” ungkapnya. Di usia yang menginjak 58 tahun, Sri mengaku masih menjadi pengelola utama Nasi Pedas Ibu Andika dibantu 4 orang anaknya.

Seputar menu, Sri menyebut yang paling disukai konsumen adalah Nasi Pedas Ibu Andika. “Resep cuma sambal, lombok, dan garam. Ini karunia Allah. Sekarang anak buah saya yang ngerjain. Saya kasi takaran dan resep. Rasanya beda dengan ulekan saya sendiri. Mungkin karena tangan yang ulek berbeda,” ungkapnya sembari mengaku dirinya full memasak khusus pada pergantian tahun baru dan Hari Raya Lebaran. Dari mana belajar memasak? Sri menunjuk bagian dadanya. “Dari hati. Tanpa turunan; tanpa belajar. Kalau lagi marah-marah saya nggak bisa masak,” tandasnya.

Menghadapi era digital seperti saat ini, Sri mengaku Nasi Pedas Ibu Andika mendapat “panggung” istimewa. Bila dulu dagangannya ludes karena informasi dari mulut ke mulut, kini bermodal handphone dan kecanggihan teknologi Nasi Pedas Ibu Andika merambah hingga ke luar Pulau Bali. Sederet artis papan atas Indonesia, antara lain Enno Lerian, Luna Maya, hingga almarhum Bondan Winarno “Mak Nyus” pernah mencicipi masakannya. Walhasil, karena kedua bintang televisi itu aktif di media sosial, nama Nasi Pedas Ibu Andika pun makin dikenal.

“Kita jadi tahu maunya pembeli apa. Jadi bisa dipilih lewat handphone. Mau yang komplit atau pakai menu ini dan itu. Kalau komplit Rp 40 ribu. Bisa tambah ini-itu jadi Rp 45 ribu. Saya bersyukur juga senang. Sama-sama membantu. Jadi saling-saling menguntungkan,” ungkapnya. Menariknya, Sri sama sekali tak memiliki keinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan hotel dan sejenisnya. Dia mengaku menolak setiap tawaran kerja sama yang ditujukan kepada Nasi Pedas Ibu Andika.

Datang ke Bali tahun 1986 bersama almarhum suami dan Andika yang masih berusia 10 bulan, kini Sri menjadi inspirasi banyak orang. Di awal memulai bisnis kecil-kecilan sekitar tahun 1987, Sri bercerita masih malu-malu menitipkan 10 bungkus nasi ke warung. Karena masakannya digemari, dia pun memutuskan dagang keliling sebelum akhirnya ngemper di Pasar Kuta 1 dan nekat menyewa lapak. “Saya di Jawa (Banyuwangi, red) tidak punya rumah. Nggak punya apa-apa lalu merantau ke Bali. Karena dibantu orang-orang Bali akhirnya bisa seperti sekarang ini,” kenangnya sambil berlinang air mata. Selain diberi nama nasi pedas, Sri mengaku mengawali bisnis dari pinjaman para pedagang di Pasar Kuta. “Semua orang ngutangin saya di Pasar Kuta. Tanpa modal. Modal pertemanan,” kenangnya sembari menyebut di awal memulai bisnis kerap menyembunyikan uang di bilah bambu.

“Ibu menyimpan uang di bambu agar tak diambil anak-anaknya,” ucap Ketut Suastika, salah seorang pelanggan setia. Warga Banjar Jaba Jero Kuta yang merupakan teman kecil Andika itu mengaku menjadi saksi mata bagimana Nasi Pedas Ibu Andika merangkak dari 0 hingga memiliki 3 cabang. “Saya tumbuh besar bersama anak-anak Ibu Andika. kami teman baik. satu tempat nongkrong. beli boleh, utang boleh, minta boleh. Tapi lebih sering minta. Saya suka makan di sini karena masakannya enak,” ucap Suastika yang saat itu mengantar turis Hawai makan siang.

Sejak 2004, Nasi Pedas Ibu Andika buka 24 jam nonstop. Sri dibantu puluhan karyawan yang digaji harian dengan alasan tidak ingin ngutang dan makan keringat orang lama-lama. Di bawah komando Sri, para karyawan dibagi jadi dua shift. Menariknya, Sri mengaku juga menggaji buah hatinya dengan hitungan harian.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker