Pemerintahan

Koster Optimis Sungai Buatan Tukad Unda Tuntas Lebih Awal

YAKIN: Gubernur Bali, Wayan Koster tinjau pembangunan sungai buatan alias normalisasi Tukad Unda di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Minggu (19/9/2021).

 

KLUNGKUNG, BaliPolitika.com– Gubernur Bali, Wayan Koster tinjau pembangunan sungai buatan alias normalisasi Tukad Unda di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Minggu (19/9/2021). Ia hadir didampingi Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Bali, Nusakti Yasa Weda. Proyek yang mengawali pembangunan Pusat Kebudayaan Bali dinilai berjalan sesuai jadwal bahkan bisa lebih cepat dari target. 

“Proses pengerjaan normalisasi ini sudah hampir mencapai 58 persen atau lebih cepat dari target 44 persen dan akhir tahun 2021 diperkirakan sudah 70 persen,” jelas mantan Anggota DPR-RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini sembari mengatakan jika melihat progres normalisasi di lapangan, maka bukan mustahil pengerjaan proyek akan jauh lebih cepat dari target selesai pada akhir tahun 2022 mendatang. Namun, pekerjaan ini tentu akan ditata lebih baik lagi, agar harmonis dengan zona Pusat Kebudayaan Bali yang akan mulai dibangun tahun 2022 dan diharapkan tuntas 2023 mendatang.

Koster menyebut program normalisasi Tukad Unda bertujuan pengendalian banjir sekaligus penyangga kawasan Pusat Kebudayaan Bali. Penataan ini juga akan menjadi pelindung wilayah di sepanjang daerah aliran sungai Tukad Unda sehingga mampu menurunkan risiko bencana di Klungkung.

Sebagaimana diketahui total luas tanah untuk Pusat Kebudayaan Bali mencapai 334,62 hektare. Saat ini masih progress pembebasan 234 hektar lahan milik warga yang ditarget selesai dalam beberapa bulan ke depan. Setelah itu akan dilanjutkan dengan pematangan lahan mulai Oktober 2021. Koster memperoleh bantuan pasir untuk pematangan lahan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali dibantu oleh PT Pelindo III secara gratis sebanyak 4,8 juta kubik sehingga menghemat biaya sekitar Rp 500 miliar.

Guna penyelesaian pekerjaan ini, pemerintah pusat menggelontorkan dana sebesar Rp 241,4 miliar dari APBN 2020-2022 untuk konstruksi. Sedangkan Provinsi Bali menyediakan anggaran ganti rugi tanah Rp 74,7 miliar dari APBD Semesta Berencana Provinsi Bali tahun 2020. Anggarannya terpisah dengan proyek Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali dengan anggaran Rp 2,5 triliun yang merupakan pinjaman Pemprov Bali dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp 1,5 triliun. Sisanya sebesar Rp 1 triliun masih dalam proses dari sumber lain.

Secara konsep, Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng ini menjelaskan Pusat Kebudayaan Bali terdiri dari zona inti, zona penunjang, dan zona penyangga. Untuk zona inti terdiri dari panggung terbuka utama berkapasitas 15 ribu, panggung terbuka madya berkapasitas 4 ribu, kalangan terbuka berkapasitas 1.000, kalangan semi tertutup berkapasitas 500, wantilan tapal kuda berkapasitas 2.500, wantilan berbentuk arena berkapasitas 1.000, panggung tertutup berkapasitas 1.000, black box berkapasitas 1.000, gedung teater film berkapasitas 700, wahana permainan tradisional Bali berkapasitas 500, lapangan permainan tradisional Bali berkapasitas 500, wahana olahraga tradisional Bali berkapasitas 500, lapangan olahraga tradisional Bali berkapasitas 500, dan 10 museum tematik.

Museum tematik ini terdiri atas museum raja-raja Bali,  museum wastra; museum tari Bali, museum gamelan dan musik Bali, museum arsitektur Bali, museum seni rupa dan desain klasik, museum seni rupa dan desain kontemporer, museum pengupa jiwa dan subak, museum aksara dan sastra Bali, ritus manusia Bali, museum usadha Bali, permainan, dan olahraga tradisi Bali, museum dokumenter proses pembangunan pusat kebudayaan Bali, serta museum botanika Bali. 

Juga dibangun zona penunjang. Terdiri atas auditorium Bung Karno, Bali exhibition center, pusat promosi ekspor Bali,  Bali convention center, gelanggang tertutup, hotel tematik dan retail  hingga rumah sakit. Sedangkan zona penyangga terdiri dari waduk muara Tukad Unda, hutan wisata dan taman rekreasi, kanal Tukad Unda, dan kawasan marina. 

“Ini merupakan kawasan yang paling lengkap yang tidak ada di dunia. Pusat Kebudayaan Bali merupakan sebuah karya monumental dalam mengimplementasikan filosofi dan visi pembangunan Bali, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru serta mengimplementasikan nilai-nilai filsafat Sad Kertih yaitu Atma Kertih, Danu Kertih, Wana Kertih, Segara Kertih, Jana Kertih dan Jagat Kertih,” pungkas Koster. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker