Alam Lestari

Jaga Alam, Kagama Bali Tanam 33 Jenis Bambu di Sandan, Baturiti

TABANAN, BaliPolitika.Com– Hutan bambu di berbagai negara terbukti menjadi pilihan bagi restorasi bentang alam maupun pasokan berbagai jasa lingkungan. Khusus di Bali, bambu menjadi tanaman serbaguna tak hanya bagi masyarakat desa, melainkan perkotaan. Selain untuk kebutuhan upacara adat, bambu juga dipakai berbagai macam konstruksi seperti rumah, gudang, jembatan, tangga, pipa saluran air, tempat air, serta alat-alat rumah tangga.

Menariknya, dari 1.600 spesies bambu yang dicatat para ilmuan, 33 jenis di antaranya bisa Anda temui di Wisata Hutan Bambu Sandan, Baturiti, Kabupaten Tabanan. Jumlah sementara 33 jenis bambu itu ditanam Pengurus Daerah (Pengda) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Provinsi Bali, Minggu (20/12/2020).

“Kegiatan Kagama Bali ini merupakan bagian dari pengabdian kami kepada masyarakat. Tugas kami ini hanya menjaga keberlangsungan konservasi yang selama ini memang sudah ada,” kata Ketua Pengda Kagama Bali, I Gusti Agung Diatmika di sela-sela kegiatan, Minggu (20/12). Selain melestarikan dan menambah jumlah spesies bambu, Diatmika menyatakan kesiapan pihaknya melakukan pendampingan demi pendampingan.

“Ke depan, kami tentu akan lakukan pendampingan. Apa yang bisa kami arahkan kepada masyarakat dan apa juga yang masyarakat perlukan, tentu kami siap. Bahkan kalau perlu dikomunikasikan dengan pihak terkait kami pasti bantu,” jelas pria murah senyum bertubuh semampai yang berprofesi sebagai notaris itu.

Sekretaris Jenderal PP Kagama Pusat, Anak Agung Gede Ngurah Ari Dwipayana menyinggung pentingnya melestarikan bambu. Selain tak bisa dilepaskan dari upacara adat di Bali, bangunan struktural Bali juga tak jauh dari bambu. Oleh sebab itu, konservasi bambu merupakan keharusan.

“Selain konservasi, yang tak kalah penting adalah edukasi kepada masyarakat sekitar. Masyarakat harus ditingkatkan kesadaran dan perhatiannya kepada konservasi bambu, jenis seperti apa, dan lainnya,” tandas Koordinator Staf Khusus Presiden Joko Widodo itu.

Ari meyakini masyarakat berpeluang besar sejahtera dari hutan, khususnya hutan bambu tanpa harus melakukan eksploitasi yang merugikan lingkungan. Yang menjadi pekerjaan rumah saat ini adalah bagaimana hutan bambu hidup berdampingan dengan industri kerajinan bambu kualitas ekspor. Ari tak menampik fakta menunjukkan dominan masyarakat di sekitar hutan masih tertinggal.

“Bali memiliki banyak sekali wilayah atau daerah yang perlu dikonservasi; yang memerlukan bantuan termasuk dari universitas. Saya kira itu harus didukung. Kagama, selain hutan bambu di sini, kami juga fokus di Alas Mertajati untuk konservasi. Ekonomi konservasi juga kita kembangkan,” tuturnya.

Hutan Bambu Sandan, Baturiti ada sejak tahun 2004. Kala itu, Bupati Tabanan I Nyoman Adi Wiryatama menerima arahan dari pemerintah pusat untuk melakukan reboisasi pada lahan seluas 400 hektar.

“Ini dimulai sejak saya jadi bupati tahun 2004 lalu. Saat itu, hutan ini sangat gundul. Akhirnya ada program reboisasi oleh pemerintah pusat dan diserahkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat sekitar,” beber Adi Wiryatama yang saat ini mengemban amanat sebagai Ketua DPRD Bali.

Dua tahun berjalan, program pemerintah pusat tersebut tak mendapat respons positif masyarakat. Selain itu, Adi menyebut masyarakat banyak yang bertani sesuka hati. Bahkan sebagian besar mulai mendirikan bangunan kecil di lahan milik negara.

“Setelah itu saya berfikir dengan Pak kades. Bagaimana caranya agar masyarakat bisa memanfaatkan hutan ini dengan baik dan mereka keluar dari hutan. Akhirnya kami rayu masyarakat dengan cara boleh bertani di hutan ini dengan syarat menanam dengan bambu,” jelasnya.

Adi menambahkan setaelah rumpun bambu tumbuh besar dan banyak, masyarakat tak bisa lagi bertani. Mereka pun akhirnya keluar dari hutan. “Jadi, kami mengeluarkan masyarakat tanpa kekerasan,” lanjutnya.

Seiring waktu, tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hutan bambu kian meningkat. Adi menilai masyarakat, khususnya generasi muda di desa sekitar semakin memiliki kepedulian dan kesadaran untuk melakukan pelestarian. Bebernya, 12 jenis bambu lokal di lokasi tersebut kini bertambah 33 jenis sumbangsih dari Kagama Bali.

“Sekarang air sudah bagus. Anak-anak muda di sini mulai memelihara hutan ini. Ke depan, kami akan meminta kepada pemerintah agar kelompok masyarakat ini dibantu,” tegasnya. Adi menilai menjaga hutan adalah investasi berharga bagi masa depan anak cucu; bagi kelangsungan alam semesta. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker