Politik

HK Masuk Buku Pelajaran, Susena: Ini Bahaya Bagi Anak-anak Kita

DENPASAR (BaliPolitika.Com)- Lolos dan dimuatnya ajaran aliran Hare Krishna pada buku pelajaran agama Hindu di sekolah menjadi perhatian serius Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia). Dijadikannya buah pikiran pendiri Masyarakat Internasional Kesadaran Krishna, Abhay Charanaravinda Bhaktivedanta Swami Prabhupada sebagai referensi dikhawatirkan lambat laun akan mengubah pola adat istiadat Hindu Nusantara, khususnya di Bali.

Menyikapi fakta tersebut, Ketua Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia), Ida Bagus Ketut Susena mempertanyakan kerja tim verifikasi buku tersebut. Sekaligus mempertanyakan PHDI terkait orang-orang yang dilibatkan sebagai tim verifikasi sekaligus memberikan persetujuan muatan terlarang tersebut diterbitkan.

“Ini dampaknya akan sangat luas pada anak-anak didik kita yang akan membaca kemudian memahami buku-buku itu. Ini perlu menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Karena ini berkaitan dengan buku agama seharusnya sangat ketat dalam menerjemahkan kurikulum yang diberikan dari tingkat di atasnya,” ungkapnya khawatir.

Sebagai respons atas menyusupnya ajaran aliran Hare Krishna pada buku pelajaran di sekolah, IB K. Susena menyebut pihaknya telah melayangkan nota protes kepada pihak-pihak terkait. Puskor Hindunesia mendesak agar buku-buku tersebut ditarik dari peredaran. Dilanjutkan dengan revisi terhadap buku-buku yang beredar dan “tercemar” propaganda Hare Krishna. Kemudian memberikan sanksi yang tegas kepada penulis, penyusun, dan tim penerbitan buku-buku tersebut.

“Sanksinya harus tegas. Bila perlu pemecatan. Karena ini sudah tidak sesuai dengan etika seorang penulis. Apalagi sudah ada dasar kurikulumnya,” tegasnya.

Terakhir, Puskor Hindunesia menyayangkan propaganda yang terus dilakukan untuk “melemahkan” posisi Hindu Bali atau Hindu Nusantara. Termasuk menyentil organisasi yang ada di belakang para penulis. Terangnya, patut diduga itu adalah titipan gerakan-gerakan propaganda atau redoktrinisasi yang sesuai dengan isi buku. “Kalau itu memang berkaitan dengan ajaran Hare Krishna, ya berarti organisasi di belakang itu yang harus kita persalahkan juga,” sentilnya.

Ke depan, IB K. Susena berharap fakta-fakta tersebut dijadikan sebagai bahan pembelajaran. Pihak-pihak terkait yang terhubung atau terkoneksi dalam penulisan buku ini harus duduk bersama. Bila dibutuhkan, akan sangat ideal tim independent dilibatkan. Memberikan evaluasi terhadap hasil kerja penulisan dan penyusunan buku-buku mata pelajaran agama Hindu. (bp)   

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker