Politik

Disel Tutup Senja Terakhir 2021, Optimis Sambut Tahun Baru 2022 

SELALU SEMANGAT: I Wayan Disel Astawa, pengusaha sukses yang mengemban amanat sebagai Bendesa Adat Ungasan sekaligus anggota DPRD Provinsi Bali berfoto di spot surga Cattamaran, Pantai Melasti di ujung tahun 2021. 

 

UNGASAN, BaliPolitika.Com– Tak ada istilah malas apalagi spesimis bagi sosok I Wayan Disel Astawa. Pengusaha sukses yang kini mengemban amanat sebagai Bendesa Adat Ungasan sekaligus anggota DPRD Provinsi Bali itu tetap semangat sejak Pulau Dewata dihantam pandemi Covid-19 yang merontokkan perekonomian Bali hingga minus 12,28 di Kuartal III Tahun 2020. Buktinya, saat banyak pihak mengeluh dengan kondisi yang terjadi akibat wabah, Disel justru menyuguhkan sesuatu yang berbalik 180 derajat. Desa Adat Ungasan justru tumbuh menggeliat di masa Pandemi Covid-19. Destinasi wisata surga berhasil dilahirkan sebelum senja terakhir menutup lembaran tahun 2021. Kini, di awal tahun 2022, Disel Astawa yakin Bali akan segera bangkit. 

Optimisme ini bukan tanpa alasan. Disel Astawa menyebut posisi keketuaan (presidensi) KTT G-20 tahun 2022 yang dipegang oleh Indonesia memilih Bali sebagai destinasi penyelenggaraan pertemuan puncak Konferensi Tingkat Kepala Negara karena telah memenuhi standar MICE sebagaimana dikatakan oleh Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf RI, Rizki Handayani.

Disel Astawa menyebut Presidensi G20 Indonesia tahun 2022 akan dihadiri oleh sekitar 287 perwakilan negara asing dan organisasi internasional di 17 kota di Indonesia, termasuk Bali. Dari acara tersebut akan ada 5.282 pejabat dan anggota keluarga delegasi, serta acara berlangsung selama 11 bulan mulai Desember 2021 sampai dengan Oktober 2022. 

Ia berharap para delegasi yang mengikuti berbagai jenis pertemuan-pertemuan, mulai dari KTT, Pertemuan Tingkat Menteri, Sherpa Meeting, Working Groups, Engagement Groups New Initiative atau diperkirakan akan ada 25 virtual meetings, 122 hybrid meetings, 77 physical meetings menyempatkan diri singgah di surga baru Bali yang terletak di Pantai Melasti, Desa Adat Ungasan. 

Ungkapnya, Pantai Melasti, salah satu “spot surga baru” Bali di Desa Ungasan telah tuntas berbenah. Tak hanya jalan berkelok, barisan tebing kapur menjulang, bukit yang ditumbuhi pepohonan, dan laut terbuka berpasir putih, Pantai Melasti kini siap menyapa seluruh turis dari mancanegara menikmati semangat baru yang ditawarkan senja di Pantai Melasti. 125 penari penari kecak akan menyongsong detik-detik matahari tenggelam dengan mementaskan intisari sloka Ramayana di panggung Praharsacita

Praharsacita mengandung arti penyucian dari segala kesedihan atau kekotoran menuju kedamaian. Selain menikmati keindahan Sang Pencipta, mereka yang hadir ke Pantai Melasti dari segala agama dan latar belakang budaya secara tidak langsung melakukan penglukatan atau menghilangkan sebel alias kekotoran yang melekat dalam dirinya menuju kedamaian lahir dan batin. “Intinya ketika sifat kotor yang melekat dalam diri kita hilang, maka terbitlah kedamaian,” ucap Disel Astawa ditemui di pengujung tahun 2021.

Ketua DPD Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Kabupaten Badung itu menambahkan panggung budaya ini diisi secara bergiliran oleh 15 banjar adat di Desa Ungasan pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Satu kelompok terdiri dari 5 banjar dan per banjar mengeluarkan 25 orang penari. Disel menyebut pihaknya juga akan memberikan kesempatan bagi sanggar-sanggar kesenian, khususnya di wilayah Desa Adat Ungasan untuk berpartisipasi di panggung Praharsacita. Ini dilakukan untuk mengembangkan bakat dan seni budaya generasi muda sekaligus mendukung program Nangun Sat Kerti Loka Bali yang menjadi visi-misi Pemerintah Provinsi Bali.

Disel Astawa menilai salah satu kebutuhan fundamental yang dibutuhkan masyarakat di masa sulit akibat pandemi Covid-19 adalah pekerjaan. “Bagaimana menciptakan lapangan kerja dan mempersatukan krama adat, ini yang lebih saya tekankan dalam konteks kehidupan sehari-hari. Saya fokus memikirkan masa depan adat dan krama Desa Adat Ungasan,” ucapnya.

Penataan Pantai Melasti ungkap Disel Astawa merupakan salah satu upaya untuk menuju kesejahteraan krama adat di masa pandemi. Memperhatikan konsep Tri Hita Karana, Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan dipadukan dengan misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Desa Adat Ungasan memberi teladan untuk tetap optimis di masa pandemi Covid-19.

Lebih lanjut, Disel Astawa mengutarakan apa yang diwariskan oleh leluhur wajib dilestarikan dengan berbagai macam penyesuaian. Krama adat memiliki kewajiban menjaga hubungan harmonis antara manusia dan manusia. Salah satunya dengan menggagas atau menciptakan kegiatan agar sumber daya manusia diberdayakan dan semakin tinggi serta berbudaya dihubungkan dengan konteks palemahan (alam, red).

Di Pantai Melasti, ketiga konsep tersebut berusaha diselaraskan dan diharmonisasi demi kesejahteraan masyarakat adat. Bagaimana menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, alam atau lingkungan, dan sesama manusia dikemas sedemikian rupa dalam penataan yang sedang berlangsung dan diplot rampung April 2021. “Pantai Melasti yang menjadi ikon Desa Ungasan siap berkompetisi dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau pasar bebas ASEAN alias pasar bebas Asia Tenggara yang berlaku sejak akhir tahun 2015 lalu,” ucapnya penuh semangat. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker