Pariwisata

Asal Ada Sinyal, Daerah Pelosok Tak Masalah 

BACA PELUANG: Owner & CEO Toya Devasya Hot Spring, The Ayu Kintamani Villa, dan Toya Yatra Travel, Putu Ayu Astiti Saraswati bersama aktor, produser, dan sutradara papan atas tanah air, Lukman Sardi (sebelum pandemi).

 

DENPASAR, BaliPolitika.Com- Pandemi Covid-19 memaksa Biro Perjalanan Wisata (BPW) Bali  istirahat panjang. Situasi ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan konsolidasi guna beradaptasi dengan era internet yang semakin penting usai pandemi. Hal ini ditekankan Owner & CEO Toya Devasya Hot Spring, The Ayu Kintamani Villa, dan Toya Yatra Travel, Putu Ayu Astiti Saraswati dalam zoom meeting bertajuk Pariwisata dan Biro Perjalanan Wisata di Bali Paska Pandemi, Sabtu (21/8/2021) sore. 

“Pandemi ini mempercepat tuntutan untuk bergeser ke era internet agar otomatisasi dan efisiensi marketing serta layanan bisa terjadi,” tegas calon Ketua Asosiasi Travel Indonesia (Asita) Bali itu.

Sinyal internet menjadi infrastruktur yang sangat penting. Sementara transportasi dan akomodasi menyusul kemudian. “Asal ada sinyal, daerah yang terpencil akan bisa dipromosikan dan orang juga akan tertarik untuk datang,” tegasnya.

Hal itu pun sejalan dengan trend travelling pasca pandemi di mana orang tak akan datang dalam grup besar, tetapi bisa jadi adalah turis individual atau keluarga. “Mungkin hanya wisatawan MICE saja yang masih bisa datang dalam kelompok besar,” tegasnya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 melahirkan segmen market baru. Di antaranya wisata edukasi dan aktivitas yoga. Saat ini banyak pelaku pariwisata yang berkeinginan untuk beralih bidang. Tak sedikit travel agent yang melirik bidang agrowisata.

Ayu juga menilai Biro Perjalanan Wisata (BPW) tak bisa lagi asyik mengurus bisnis sendiri. Menyongsong harapan kebangkitan ekonomi paska pandemi, ia menegaskan harus dilakukan  pembenahan secara makro demi kepentingan bersama.

Terkait usulan agar BPW terjun langsung memberdayakan desa wisata, Ayu menyambut baik. Travel miliknya kini membina satu desa wisata di wilayah Bangli. Ke depan, Ayu menilai desa wisata lebih menarik minat wisatawan karena relatif tidak ramai dan menyajikan makanan sehat yang diperoleh langsung dari alam.”Paket wisata seperti ini akan lebih menarik minat wisatawan setelah pandemi,” tambahnya

Ke depan, ia berharap satu travel agent membina satu desa wisata atau dikenal dengan istilah  “One Travel, One Village”. Dengan program ini, masyarakat di pedesaan akan merasakan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata di Bali.

Hal ini senada dengan pandangan akademisi Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Dr. I Nyoman Sukma Arida. Ia mengajak semua pihak untuk memposisikan pariwisata Bali sebagai bonus dan bukan pendapatan utama.

“Saya tegaskan, masyarakat pedesaan menjadikan pariwisata sebagai bonus saja, bukan sumber pendapatan utama. Sehingga jika terjadi situasi yang sama seperti pandemi, masyarakat tetap dapat bertahan hidup,” jelas Sukma Arida. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker