PeristiwaSeni & Budaya

Aksi Damai Taksu Bali Pindah ke Bajra Sandhi

DENPASAR (BaliPolitika.Com)- “Aksi Damai Taksu Bali” ke Sekretariat Parisada Hindu Dharma Indonesia Bali hari Senin, 3 Agustus 2020 pukul 11.30 siang dialihkan. Aksi yang diprakarsai Forum Komunikasi Taksu Bali yang terdiri dari gabungan elemen umat Hindu Bali itu dipindahkan ke Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar. Penegasan ini disampaikan Koordinator Aksi Lapangan, I Putu Agus Yudiawan, SH, Minggu (2/8/2020) siang.

“Dengan menimbang segala masukan, baik dari kalangan masyarakat, anggota, dan pemerintah. Termasuk dari segi keamanan, kenyamanan, kesehatan dan juga petunjuk niskala, maka Aksi Damai Taksu Bali bertemakan “Parade Seni dan Budaya Taksu Bali” diubah titik kumpulnya. Yang sebelumnya di GOR Lila Buana menjadi Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar. Mengenai waktu kumpul tetap, yaitu pada pukul 11.30 Wita sudah kumpul di Bajra Sandhi,” ucap Agus Yudiawan.

Tegasnya, aksi damai dilatarbelakangi panggilan nurani sebagai umat Hindu Bali untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi, adat, budaya, dan agama Hindu Bali. “Kami sangat menjungjung tinggi dharma agama dan dharma negara,” tegasnya.

Pertunjukan kesenian yang akan ditampilkan, rinci Agus Yudiawan antara lain calonarang dengan 30 watangan, jogeg bumbung, bondres, fragmen tari, ngurek, baleganjur, dan angklung. “Tuntutan kami ke PHDI tetap menolak Hare Krishna di Bali, reformasi PHDI Bali, meminta PHDI Bali untuk memohonkan kepada Kejaksaan Agung memberlakukan SK Jaksa Agung nomor 107/JA/5/1984 dengan menarik semua barang cetakan yang memuat ajaran Hare Krishna dan juga melarang seluruh kegiatan Hare Krishna di tanah Bali,” ungkapnya.

Terkait aksi damai yang semula dirancang ke Sekretariat PHDI Bali, Agus Yudiawan menyebut 15 orang perwakilan Forum Komunikasi Taksu Bali tetap akan mendatangi kantor PHDI Bali dan menyerahkan surat tuntutan. “Akan disiarkan live di media sosial. Kami berharap acara Aksi Damai Taksu Bali berjalan sesuai rencana dan penuh dengan keceriaan dan kedamaian. “Om ano badrah kratawo yantu visvatah. Om avignam astu namo sidham,” tutupnya.

Sebagaimana diketahui, polemik aliran Hare Krishna (HK) dan sepak terjang The International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) dinilai berpotensi mengubah tradisi, adat, budaya, dan Agama Bali meresahkan banyak pihak. Meski dilarang sesuai Surat Keputusan Kejaksaan Agung No. 107/JA/5/1984, banyak pihak menilai HK “dilindungi” Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker