Pariwisata

Akademisi Unud Ajak Bali Stop Dewakan Turis Asing

KOREKSI MENYELURUH: Akademisi Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Dr. I Nyoman Sukma Arida dalam zoom meeting bertajuk Pariwisata dan Biro Perjalanan Wisata di Bali Paska Pandemi, Sabtu (21/8/2021) sore. 

 

DENPASAR, BaliPolitika.Com- Total kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali selama 2019 mencapai 6,2 juta orang. Australia bertengger di urutan pertama dengan menyumbang 20,4% turis. Disusul Tiongkok dengan 18,53%, dan 61% turis dari berbagai negara. Perlu dicatat, tak seluruhnya turis berkelas. Banyak pula turis yang justru terlibat kasus kriminalitas di Bali. Jauh sebelum pandemi Covid-19 melanda, kisah miris sejumlah wisatawan mancanegara yang justru mengemis di Bali juga beberapa kali diberitakan media massa. 

Dalam zoom meeting bertajuk Pariwisata dan Biro Perjalanan Wisata di Bali Paska Pandemi, Sabtu (21/8/2021) sore, akademisi dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Dr. I Nyoman Sukma Arida menegaskan pariwisata Bali pasca-pandemi Covid-19 idealnya tak lagi mendewa-dewakan pasar asing atau wisatawan mancanegara.

“Saatnya kita untuk lebih pro pada pariwisata kerakyatan atau desa wisata karena memang wisatawan nantinya tentu akan menghindari tempat-tempat wisata yang menawarkan keramaian,” ucapnya.

Wisatawan di masa mendatang, lanjut Sukma, akan lebih memilih yang tempat yang menawarkan karakter edukasi dan lingkungan yang lebih baik, khususnya destinasi yang menerapkan protokol kesehatan.

“Sebelum pandemi, kita cenderung pada wisata massal. Belum lagi soal praktik-praktik eksploitasi wisatawan untuk mendapatkan komisi dari pelaku usaha yang berada di jalur wisata, hingga marginalisasi desa wisata dan pendapatan pariwisata yang bocor ke pusat,” katanya.

Yang tidak kalah penting, tutur Sukma Arida adalah membangkitkan ekonomi Bali tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata. Memperkuat sektor pertanian dan UMKM menjadi sebuah keniscayaan. 

“Untuk di desa wisata, mari kita pandang kunjungan wisatawan sebagai bonus. Bukan karena mengembangkan desa wisata, kemudian lantas berhenti menjadi petani karena pariwisata itu sangat rentan,” tandasnya. (bp)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
You cannot copy content of this page
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker