ADAT DAN BUDAYA

Mahaprabhu Pralahda Pandya Diingatkan Agar Tak Ngaku-Ngaku Sulinggih

Iwan Pranajaya: Harus Satya Ring Pawisik Bhatara

RAJA ABAL-ABAL DARI PESISIR BARAT: Sosok Putu Wirasa Pandya alias Mahaprabhu Pralahda Pandya yang hanya mengakui PHDI MLB. 

 

TABANAN, Balipolitika.com- Putu Wirasa Pandya alias Mahaprabhu Pralahda Pandya dingatkan untuk satya alias setia pada apa yang disebutnya sebagai pawisik bhatara atau bisikan Tuhan untuk digunakan terbatas internal Pasraman Kayu Manis; bukan untuk konsumsi publik.

Konon, SOP (standard operation procedure) pawisik yang diterima, ia diberi gelar Mahaprabhu Pralahda Pandya, menggunakan tongkat komando sebagai Raja Rsi.

Tapi, dengan tertawa ia menyebut dirinya raja abal-abal, busana seperti sulinggih, rambut prucut seperti sulinggih, mahkota maharaja dan duduk di atas singgasana sebagai yang disebutnya sendiri sebagai raja abal-abal atau Raja Rsi.

Bahkan istri keduanya pun, oleh Pandya disebut atas anugerah semesta dengan gelar Mahaprabhu Patni.

Karena merupakan anugerah Ida Bhatara melalui pawisik sudah sepatutnya anugerah itu pingit, tenget, disucikan dan digunakan secara terbatas, singid, dan jangan diumbar ke publik, apalagi untuk gagah-gagahan.

Lagi pula, Pandya sendiri melalui klarifikasi di media sosial, menegaskan bahwa gelar dan atribut itu untuk di Pasraman Kayu Manis hanya untuk internal.

Namun, faktanya ia menggunakan atribut itu tampil di ruang publik, tidak sesuai dengan sesana kesulinggihan, dan juga aneh kesannya kalau atribut Maharaja Raja Rsi dengan tongkat komando, mahkota, dan singgasana raja lalu dipertontonkan ke publik.

Narasi seperti raja abal-abal, tidak mencerminkan penghormatan kepada lembaga kesulinggihan, makna dari pawisik suci yang diklaim turun dalam mimpinya.

Demikian penegasan Nyoman Iwan Pranajaya menanggapi pernyataan Putu Wirasa Pandya dalam klarifikasi yang diunggahnya di medsos.

Iwan Pranajaya selaku Wakil Ketua PHDI Bali, menulis surat yang ditujukan kepada krama Hindu sejebag Bali, yang berisi berbagai hal tentang narasi Putu Wirasa Pandya yang abhiseka wisik menjadi Mahaprabhu Pralahda Pandya, yang viral di media sosial.

‘’PHDI Bali mengundang yang bersangkutan untuk memberi kesempatan mengklirkan berbagai pertanyaan tentang statusnya. Tapi, karena mengaku hanya mau diundang oleh PHDI Pemurnian, dan balik mengundang PHDI yang dia sebut tidak dia akui, maka surat inilah yang kami persiapkan kepada krama Hindu sejebag Bali, untuk dicermati dan digali secara obyektif tentang Putu Wirasa Pandya tersebut,’’ jelas Iwan Pranajaya.

Soal isi kegiatan Pasraman Kayu Manis, seperti sanggar seni tari, latihan membuat banten, dan sejenisnya, memang perlu dikembangkan dan PHDI Bali bersama seluruh jajaran di kabupaten dan kota, sangat mendukung.

“PHDI Bali bersama organisasi Pasemetonan, PSN (Pinandita Sanggrahan Nusantara), bekerja sama dalam pelatihan kepemangkuan, dan itu berjalan bertahun-tahun,” lanjut Iwan.

Iwan juga mengingatkan, karena Putu Wirasa Pandya bukanlah seorang sulinggih. Penampilannya yang menggunakan sebagian atribut sulinggih, busana dan prucut rambut, memada-mada sulinggih, merusak lembaga kesulinggihan.

Karena ada walaka tampil dengan atribut sulinggih, dan itu yang membingungkan umat.

‘’Jangan dikira kami hanya menyorot Putu Wirasa Pandya saja. Oknum seperti Ibu Puji di Kota Mataram yang hanya melukat, tapi tampil sebagai sulinggih, selain sudah diklarifikasi dengan sikap tegas PHDI NTB, untuk diketahui, PHDI Bali bersama PHDI Badung, sama-sama memberi sikap tegas permohonan diksa Ibu Puji, dan tidak mengabulkannya sampai permasalahannya di NTB benar-benar klir. Oknum yang mengaku sulinggih dan terkait kasus pidana dan sudah divonis serta inkrah, PHDI Bali dan PHDI Gianyar membantu kepolisian mengklarifikasi dengan tampil sebagai ahli dalam persidangan, dan bersaksi bahwa yang bersangkutan memang bukan sulinggih yang terdaftar di PHDI Gianyar, tidak pula melalui diksa dwijati yang diproses melalui PHDI,’’ imbuh Iwan.

Iwan juga mengingatkan, Pandya jangan gampang menuding, menyebut orang membuat framing negatif tentang dirinya.

‘’Kami tidak punya niat membangun framing negatif, selain mengungkap fakta, menanyakan dan meminta klarifikasi. Karena dari fakta-fakta yang ada, memang ada percakapan chatt Bhaktas, ada di status Bhaktas seperti misalnya kata-kata bahwa garis perguruannya adalah sampradaya Hari Gopal; bahwa dia adalah raja abal-abal dari Pesisir Barat,” tegas Iwan Pranajaya. (bp)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker