OPINI

Galungan dan Kuningan Momentum Kalahkan Diri Sendiri

Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, S.IP,.M.AP.

Hari Raya Galungan datang lagi. Walau pandemi, setiap 6 bulan sekali menurut perhitungan kalender Bali yang tiap bulannya berjumlah 35 hari, Budha Kliwon Wuku Dungulan menjadi hari umat Hindu merayakan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan). Sifat buruk yang terutama harus dikalahkan ada pada diri sendiri. Di masa sulit akibat Covid-19, umat Hindu melaksanakan perayaan sebagaimana sebelum pandemi. Penjor tetap terpasang. Aktivitas mapatung (menyembelih babi bersama) pun tetap berjalan. Termasuk kegiatan persembahyangan dari satu pura ke pura lain, meskipun dalam kondisi serba terbatas karena mempertimbangkan protokol kesehatan.

Memaknai Galungan dan Kuningan, umat diharapkan selalu menjaga kebaikan atau kebajikan di kehidupan ini agar bisa mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya atau lebih baik lagi di kehidupan mendatang dalam siklus punarbhawa atau kelahiran kembali alias reinkarnasi.

Dalam suratan sejarah, Galungan bermula dari kisah Raja lalim, Mayadenawa. Kesaktiannya tak terkalahkan. Gelap mata ia menganggap dirinya adalah dewa yang patut disembah oleh rakyatnya. Kesaktiannya itu diperoleh karena keteguhan dan ketekunan imannya pada Dewa Siwa. Mayadenawa menjadi raksasa sakti yang mampu berubah wujud.

Di akhir kisahnya, Mayadenawa dikalahkan Dewa Indra. Kemenangan Dewa Indra melawan Mayadenawa ini disimbolkan sebagai kemenangan kebaikan melawan kejahatan. Dari sinilah sejarah hari raya Gulungan tersebut yang diturunkan dari generasi ke generasi sampai sekarang ini.

Saat perayaan ini juga ada tradisi memenjor atau membuat penjor. Penjor menggunakan bambu melengkung yang melambangkan gunung tertinggi tempat stana dewa. Dihiasi hasil bumi atau pertanian berkah Tuhan. Secara utuh berarti ucapan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas segala kemakmuran yang dilimpahkan.

Mengacu Bhagavadgita (III : 9, 10) disebutkan bahwa yadnya menyimbolkan suatu penjelajahan dan pendakian spiritual untuk menyatukan potensi atau kekuatan yang bersifat Sattwik (sattvikam yadnya) yang ada dalam diri manusia sesuai dengan kodratnya.

Sementara itu jika dilihat dari etimologi kata, yadnya disebutkan Ida Pedanda berasal dari bahasa sansekerta yaitu “YADN” yang berarti memuja, menyembah, berdoa, dan kurban suci. Pemujaan atau penyembahan ditujukan kepada jiwa yang lebih tinggi derajatnya seperti tuhan dan para dewa.

Adapun kurban suci yang dimaksud dalam Bhagavadgita tersebut ditujukan kepada spirit-spirit atau makhluk lebih rendah yang memiliki sifat baik maupun sifat buruk. Selain itu, yadnya bukanlah semata-mata bersifat ritual, tetapi juga tindakan atau kerja simbolis yang dipahami sebagai suatu konsep dalam rangka membuka jalan diri manusia ke arah lebih baik.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia 2 tahun terakhir tak membuat Galungan dan Kuningan batal. Rasa syukur tetap harus dipanjatkan. Khusus wanita Hindu, ini menjadi momentum membagi diri dalam urusan karier dan kewajiban adat. Persiapaan dari majejaitan, hingga berbelanja ke pasar untuk menghiasi sarana upakara persembahyangan dengan buah-buahan, janur dan bunga yang penuh warna dan keindahan harus diatur sedemikian rupa.

Seolah Covid-19 hilang dari Bali. Namun, dalam kerumunan yang tercipta taat prokes adalah cerminan pribadi masyarakat Pulau Dewata yang patut diacungi jempol. Walaupun harga bahan-bahan upacara melambung, semangat mempersembahkan yang terbaik juga tampak tidak surut. Keyakinan bahwa apa yang dipersembahkan pada Tuhan Yang Maha Esa, akan berbuah jalan yang baik dan kesehatan tertanam dalam-dalam. Spirit rasa syukur luar biasa ini sejatinya mengalahkan seramnya pandemi yang menghantui kita 2 tahun terakhir. Selamat merayakan Galungan dan Kuningan. Selamat mengalahkan diri sendiri. (***)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker